COMMENT

Filosofi Kue Bugis Makassar dalam Pernikahan

Salah satu bagian paling menyenangkan dari hajatan pernikahan adalah banyaknya hidangan yang tersaji. Dalam masyarakat Bugis Makassar, hidangan biasanya tersaji di dalam bosara’. Bosara’ merupakan wadah khusus yang digunakan untuk menyajikan kue-kue tradisional Bugis Makassar. Menariknya kue-kue yang tersaji biasanya hanya dijumpai saat itu saja dan jarang dijumpai pada waktu lain. Karena setiap kue tersebut mengandung makna filosofi bagi pernikahan itu sendiri. Mungkin itu sebabnya kue pernikahan selalu terasa manis.

Salah satu kue Bugis Makassar yang paling manis menurut saya adalah bolu peca. Kue ini memiliki tekstur lembut dan empuk karena terbuat dari bahan dasar tepung ketan atau tepung beras putih. Tapi ada juga yang membuat kue ini dengan menggunakan tepung terigu. Ciri khas dari kue ini adalah gula merah. Kelembutan dan rasa manis dari kue berwarna coklat ini memiliki makna bahwa harapan akan kehidupan yang nanti dijalani oleh kedua mempelai.

Selanjtunya ada beppa pute. Dalam bahasa Bugis, beppa pute artinya kue putih. Disebut demikian karena kue ini memang berwarna putih dengan taburan gula halus di atasnya. Kue berbahan dasar putih telur ini memiliki rasa khas manis dan renyah. Makna dari kue ini adalah harapan dapat membawa berkah dari Allah SWT, seperti kemudahan rezeki, keselamatan, dan harapan akan terwujudnya keluarga sakinah, mawddah, wa rahmah bagi kedua mempelai.

Lalu ada katirisala. Kue tradisional ini terbuat dari beras ketan hitam atau putih, gula merah dan putih telur. Kue ini juga memiliki rasa manis yang khas dan sayangnya tidak begitu saya sukai tapi selalu menjadi favorit. Biasanya kue ini dibuat dalam cetakan khusus berbentuk bundar. Dalam pembuatannya, kue ini terbagi jadi 2 susunan dengan bagian bawah berwarna putih dan bagian atas berwarna hitam. Warna putih adalah beras ketan sedangkan warna hitam adalah kombinasi gula merah dan telur. Saya kurang tahu apa maknanya. Jika melihat dari perpaduan warna gelap dan terang, mungkin ini melambangkan tentang hitam putih kehidupan.

Ada juga kue bannang-bannang yang dalam bahasa Makassar, berarti benang yang saling membentuk jalinan. Disebut dimikian karena kue ini terlihat seperti lilitan benang. Kue tradisional ini bermakna hubungan yang saling terkait antara kedua mempelai dan keluarga yang nantinya saling membutuhkan dan bekerjasama hingga maut memisahkan.

Ada lagi kue yang sangat manis bernama cucuru bayao. Kue ini dibuat dari puluhan kuning telur, kenari, dan gula pasir murni. Rasa yang sangat manis dan aroma yang kuat adalah ciri khas dari kue berwarna kuning ini. Rasa manis ini merupakan simbol dari harapan pasangan yang menikah agar nantinya mereka mampu mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh kebahagiaan. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa perempuan yang memakan kue ini di sebuah pesta pernikahan, maka jodohnya akan segera datang. Entahlah, itu tergantung kepercayaan setiap orang.

Selanjutnya ada kue ajoa. Ajoa sendiri merupakan sebuah alat yang dipasangkan di 2 leher kerbau yang digunakan untuk membajak sawah. Alat ini kemudian ditiru dalam bentuk kue kering. Kue ajoa memiliki rasa yang manis, lembut, dan renyah. Makna dari kue ini adalah kerjasama dari 2 orang yang berpasangan. Pasangan pengantin baru diharapkan agar selalu bisa saling membantu setelah menjalani kehidupan pernikahan.

Ada lagi yang namanya se’ro-se’ro. Se’ro-se’ro merupajan kue kering yang memiliki rasa yang manis dan gurih. Kue ini terbuat dari campuran gula, tepung beras pulut, telur, dan tepung kanji. Se’ro-se’ro memiliki bentuk yang unik, yakni menyerupai timba yang terbuat dari daun nipah, yang dalam bahasa Makassar berarti se’ro. Dalam pernikahan Bugis Makassar, kue ini mengandung filofosi bahwa kedua mempelai akan saling melayani.Dahulu, konon katanya pasangan suami istri yang baru menikah harus bergantian menimbakan air di sumur. Jadi, kehadiran se’ro-se’ro merupakan simbol agar saling mengisi satu sama lain.

Semua kue yang telah saya sebutkan hanyalah contoh dari beberapa kue tradisional Bugis Makassar yang selalu ada di setiap acara pernikahan. Bukan hanya sebagai sajian pelengkap saja, tapi juga ada filosofi yang ingin disampaikan. Percaya atau tidak itu tergantung diri kita masing-masing. Tak ada hak untuk memaksa. Sebagai orang Bugis, tentu saya bangga dengan makna yang ada dalam setiap kue tersebut.

Selama ini saya hanya sebagai penikmat saja. Tidak pernah peduli mengapa kue itu hanya ada dalam setiap pernikahan. Dan memang rasanya agak aneh saja ketika saya menemukan salah satu dari kue tersebut bukan di pesta pernikahan. Sama halnya saya merasa aneh saat harus memakan pisang ijo di luar bulan Ramadhan. Tapi setelah membaca beberapa artikel seputar kue-kue pernikahan dari berbagai sumber, maka saya pun mengetahui apa saja nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam masing-masing kue.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s