Jangan Buang Uang Koinmu!

Uang merupakan alat pembayaran yang sah dalam transaksi perdagangan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Di Indonesia sendiri uang yang beredar berupa uang kartal yaitu uang kertas dan uang koin. Meski begitu, kebanyakan orang justru bertransaksi dengan menggunakan uang kertas dibandingkan dengan uang koin. Nominalnya yang terbilang kecil membuat uang koin kerap dilupakan bahkan terkadang hanya ditelantarkan oleh si empunya.

Alasan berat dan rempong dibawa ke mana-mana juga menjadi faktor mengapa orang malas menggunakan uang yang terbuat dari logam ini. bukan Cuma pembeli saja yang malas membawanya, si penjual pun juga kadang enggan menerima uang koin. Tidak semua begitu hanya saja ada beberapa toko yang terang-terangan menolak penggunaan uang koin alias uang receh.

Suatu ketika saya pergi ke sebuah counter pulsa karena hendak membeli pulsa. Di atas meja terpampang tulisan yang berbunyi “Tidak Terima Uang Receh/ Koin dan uang Kusut”. Toko pulsa ini adalah satu dari sekian toko yang menolak pembeli yang berbelanja dengan uang receh. Padahal uang koin adalah uang juga dan masih menjadi alat pembayaran yang sah. Mungkin si penjual malas menghitung uang recehan yang bisa menghabiskan  waktu berjam-jam.

Memang terkadang kita pun juga bingung saat memiliki banyak uang receh. Karena kita tidak mungkin memasukkan semuanya ke dalam dompet karena pasti akan berat. Karena hal ini akhirnya kita jadi malas memiliki uang receh. Alhasil uang koin hasil kembalian saat belanja malah tidak kita ambil dan dibiarkan begitu saja dengan alasan ‘diikhlaskan’. Bahkan kita juga tidak merasa kehilangan saat uang pecahan 100, 200, atau 500 Rupiah kita tercecer. Tapi pernahkah kita berpikir sudah berapa banyak uang yang kita buang hanya karena malas membawanya?

Meski nominal dan ukurannya kecil, bukan berarti uang koin tidak ada gunanya. Uang koin memiliki segudang manfaat yang bahkan melebihi manfaat uang kertas. Jika uang kertas hanya digunakan sebagai alat pembayaran, maka lain halnya dengan uang koin. Tidak hanya sebatas alat pembayaran, uang koin bisa mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah menabung.

Saat kecil orang tua kita tentu pernah mengajarkan untuk menabung. Tabungan yang dimaksud adalah sebuah celengan yang berbentuk lucu. Di celengan itulah kita memasukkan uang koin yang diberikan orang tua. Saat celengan tersebut menjadi berat, maka perasaan bangga pun akan muncul dan betapa senangnya kita saat celengan tersebut dibuka. Betapa bahagianya kita saat melihat ada banyak sekali uang yang keluar dari celengan tersebut.

Meski kita pernah melakukannya saat kecil, tapi tidak ada salahnya juga jika kita masih menerapkannya saat ini. Saya pun termasuk salah satu orang yang hingga kini masih setia menabung uang koin. Bukan apa-apa, saya hanya merasa tertarik saja untuk melakukannya dan ada rasa senang tersendiri kala uang tersebut berhasil terkumpul dan menjadi uang kertas dengan nominal yang besar.

Caranya mudah saja, kita bisa menukarkannya di minimarket atau warung terdekat. Mereka tentu membutuhkan uang receh untuk kembalian. Kita semua pasti pernah merasakan saat uang kembalian kita ditukar dengan permen lantaran si penjual tidak punya uang kecil. Padahal hal itu sebenarnya tidak adil. Kita sebagai konsumen tetap berhak atas uang kembalian meskipun hanya sebesar 100 Rupiah. Maka dari itu, jika uang receh yang kita kumpulkan telah banyak maka segera tukarkan. Tentunya kedua pihak akan sama-sama untung.

Masih ada banyak sekali manfaat uang koin yang bisa kita rasakan. Mulai dari sebagai alat kerokan, alat pembayaran yang pas, hingga sebagai alat untuk beramal karena kita bisa memberikan uang koin yang kita miliki pada orang yang lebih membutuhkan. Sekecil apapun akan sangat bermanfaat. Maka dari itu, jangan buang uang receh jika tidak ingin kehilangan manfaat.

Advertisements

Dracula (1897) by Bram Stoker

Apa yang terlintas di pikiran kita saat mendengar kata vampire? Apakah sosok yang mengerikan atau justru sosok keren yang bisa membuat siapa saja jatuh hati. Saat ini mungkin kita akan membayangkan vampire sebagai sosok keren yang mengagumkan. Hal ini tidak lain karena kesuksesan seorang Stephanie Meyer yang telah menciptakan karakter vampire tampan Edward Cullen. Maka tidak heran jika vampire yang sebelumnya adalah sosok mengerikan akhirnya berubah menjadi sosok baik sebagai pahlawan.

Berbeda dengan vampire yang diciptakan oleh Stephanie Meyer, jauh sebelum kita mengenal Edward Cullen, Bram Stoker telah lebih dulu memperkenalkan sosok vampire melalui karyanya yang berjudul “Dracula”. Meski Bram Stoker memiliki karya lainnya, namun kisah vampire bernama Count Dracula inilah yang paling terkenal. Jika Stephanie Meyer menciptakan vampire tampan yang akan berkilau di bawah sinar matahari, maka lain halnya dengan vampire ciptaan Bram Stoker. Vampir yang diciptakannya memiliki tubuh yang tinggi, berhidung bengkok, dan bergigi runcing. Ia tinggal di sebuah kastil di wilayah Transylvania.

Bram Stoker menciptakan novel Dracula pada 1897 dengan mengusung genre horror gothic. Novel ini berkisah tentang Count Dracula, yang bermukim di Inggris namun berencana untuk pindah ke Inggris. Ia pun melibatkan seorang pria bernama Jonathan Harker untuk membantunya memeriksa kelengkapan surat-suratnya karena ia ingin membeli beberapa tempat di Inggris.

Jonathan Harker pun mengunjungi kliennya tanpa mengetahui terlebih dahulu latar belakannya. Setibanya di Transylvania, Jonathan merasa bingung mengapa warga mencegahnya untuk ke kastil. Namun ia tidak mengindahkannya. Saat Jonathan bertemu dengan Count Dracula dan tinggal di kastil tersebut, perlahan ia mulai mengalami beberapa hal aneh. Jonathan yang terkurung dalam kastil pun harus berusaha tetap sadar agar ia bisa melarikan diri secepatnya.

Sementara itu, di Inggris, Mina Murray yang merupakan kekasih Jonathan Harker kebingungan saat terjadi keanehan pada kesehatan Lucy Westenra, sahabatnya. Lucy yang mengalami gangguan tidur tiba-tiba menjadi aneh setelah Mina mendapatinya duduk bersama seorang pria tidak dikenal. Seorang dokter bernama Dokter Seward pun telah memeriksanya dan mengatakan tidak ada tanda-tanda penykit pada tubuh Lucy.

Akirnya Dokter Seward mengundang Profesor Abraham van Helsing yang tidak lain adalah gurunya dari Amsterdam. Keduanya pun bekerja sama untuk menangani kasus Lucy. Namun Van Helsing justru tidak bisa memberitahu Dokter Seward tentang temuannya karena khawatir ia tidak akan bisa menerima kondisi Lucy apalagi oleh Lord Godalming, kekasih Lucy. Hingga suatu hari, Van Helsing memutuskan untuk memberi tahu mereka semua saat kondisi Lucy yang kian hari kian memburuk. Dari sinilah mereka sadar bahwa ada bahaya besar yang sedang mengancam.

Saya tahu novel ini pertama kali pada tahun 2007 dan baru berhasil membacanya pada tahun 2017. Butuh waktu 10 tahun untuk bisa membaca menemukan novel ini. Saya sempat berpikir jangan-jangan novel ini hanya bisa ditemukan di perpustakaan khusus buku-buku kuno mengingat novel ini sudah lama sekali. Tapi ternyata saya keliru. Saya justru menemukan novel ini terpampang di Gramedia secara tidak sengaja. Tanpa pikir panjang, saya langsung membelinya apalagi harganya juga sangat murah mengingat novel ini adalah novel jadul.

Tampil dengan cover hitam dan sedikit noda darah segar yang jatuh dari sepasang taring membuat novel ini terlihat garang dan elegan. Namun setelah saya membacanya, sosok Dracula yang digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan justru tidak tampak di sini. Saya sempat berpikir di sini akan tampak Dracula sedang menikmati mangsanya. Tapi itu tidak ada. Tidak ada bagian yang memperlihatkan keganasan seorang Dracula yang terkenal bengis.

Meski begitu, saya masih bisa merasakan terror yang diciptakan oleh Count Dracula sendiri. Menurut saya nuansa gelapnya sangat terasa apalagi saat Count Dracula mengincar Lucy Westenra. Bram Stoker berhasil membawa suasana itu. Hal ini mungkin dikarenakan oleh cara penuturan kisahnya yang unik. Kisah ini tidak menggunakan sudut pandang orang ketiga tapi menggunakan sudut pandang orang pertama yang bercerita melalui catatan harian.

Hal ini terasa unik karena kita bisa dengan mudah mengetahui jalan pikiran masing-masing tokoh. Pembaca juga dituntut untuk bersabar karena alur yang maju mundur sehingga membuat beberapa bagian cerita jadi berulang. Dengan gaya penceritaan semacam ini saya seolah ikut menjadi bagian dari cerita. Tapi beberapa bagian sangat datar hingga terkesan sangat lambat. Namun semakin ke sini alurnya berubah jadi cepat dan entah kenapa saya merasa justru ceritanya terlalu dipaksa untuk habis. Jadi, ketika Count Dracula akhirnya kalah, rasanya tidak ada kejutan sama sekali. Tidak ada rasa heroisma di dalamnya yang membuat saya hendak bersorak karena sang vampire terlalu mudah dikalahkaan.

Ada beberapa bagian dalam novel ini yang membuat saya bertanya. Pertama, apa maksud kedatangan Count Dracula ke Inggris. Kedua, mengapa Count Dracula mengincar Lucy Westenra. Ketiga, bagaimana bisa empat orang melakukan transfuse darah untuk orang yang sama padahal setiap orang punya golongan darah yang berbeda. Dan keempat, bagaimana cara Jonathan Harker melarikan diri dari kastil.

Terlepas dari semua itu, novel ini menarik karena Bram Stoker terinpirasi dari Vlad Dracul. Awalnya saya mengira Bram Stoker hanya menggunakan namanya saja tapi dalam cerita dikatakan bahwa Count Dracula memang adalah Vlad Dracul. Inilah yang membuat saya sangat ini membaca novel ini. Novel ini tidak terlalu buruk tapi tidak juga terlalu luar biasa.