COMMENT

Dracula (1897) by Bram Stoker

Apa yang terlintas di pikiran kita saat mendengar kata vampire? Apakah sosok yang mengerikan atau justru sosok keren yang bisa membuat siapa saja jatuh hati. Saat ini mungkin kita akan membayangkan vampire sebagai sosok keren yang mengagumkan. Hal ini tidak lain karena kesuksesan seorang Stephanie Meyer yang telah menciptakan karakter vampire tampan Edward Cullen. Maka tidak heran jika vampire yang sebelumnya adalah sosok mengerikan akhirnya berubah menjadi sosok baik sebagai pahlawan.

Berbeda dengan vampire yang diciptakan oleh Stephanie Meyer, jauh sebelum kita mengenal Edward Cullen, Bram Stoker telah lebih dulu memperkenalkan sosok vampire melalui karyanya yang berjudul “Dracula”. Meski Bram Stoker memiliki karya lainnya, namun kisah vampire bernama Count Dracula inilah yang paling terkenal. Jika Stephanie Meyer menciptakan vampire tampan yang akan berkilau di bawah sinar matahari, maka lain halnya dengan vampire ciptaan Bram Stoker. Vampir yang diciptakannya memiliki tubuh yang tinggi, berhidung bengkok, dan bergigi runcing. Ia tinggal di sebuah kastil di wilayah Transylvania.

Bram Stoker menciptakan novel Dracula pada 1897 dengan mengusung genre horror gothic. Novel ini berkisah tentang Count Dracula, yang bermukim di Inggris namun berencana untuk pindah ke Inggris. Ia pun melibatkan seorang pria bernama Jonathan Harker untuk membantunya memeriksa kelengkapan surat-suratnya karena ia ingin membeli beberapa tempat di Inggris.

Jonathan Harker pun mengunjungi kliennya tanpa mengetahui terlebih dahulu latar belakannya. Setibanya di Transylvania, Jonathan merasa bingung mengapa warga mencegahnya untuk ke kastil. Namun ia tidak mengindahkannya. Saat Jonathan bertemu dengan Count Dracula dan tinggal di kastil tersebut, perlahan ia mulai mengalami beberapa hal aneh. Jonathan yang terkurung dalam kastil pun harus berusaha tetap sadar agar ia bisa melarikan diri secepatnya.

Sementara itu, di Inggris, Mina Murray yang merupakan kekasih Jonathan Harker kebingungan saat terjadi keanehan pada kesehatan Lucy Westenra, sahabatnya. Lucy yang mengalami gangguan tidur tiba-tiba menjadi aneh setelah Mina mendapatinya duduk bersama seorang pria tidak dikenal. Seorang dokter bernama Dokter Seward pun telah memeriksanya dan mengatakan tidak ada tanda-tanda penykit pada tubuh Lucy.

Akirnya Dokter Seward mengundang Profesor Abraham van Helsing yang tidak lain adalah gurunya dari Amsterdam. Keduanya pun bekerja sama untuk menangani kasus Lucy. Namun Van Helsing justru tidak bisa memberitahu Dokter Seward tentang temuannya karena khawatir ia tidak akan bisa menerima kondisi Lucy apalagi oleh Lord Godalming, kekasih Lucy. Hingga suatu hari, Van Helsing memutuskan untuk memberi tahu mereka semua saat kondisi Lucy yang kian hari kian memburuk. Dari sinilah mereka sadar bahwa ada bahaya besar yang sedang mengancam.

Saya tahu novel ini pertama kali pada tahun 2007 dan baru berhasil membacanya pada tahun 2017. Butuh waktu 10 tahun untuk bisa membaca menemukan novel ini. Saya sempat berpikir jangan-jangan novel ini hanya bisa ditemukan di perpustakaan khusus buku-buku kuno mengingat novel ini sudah lama sekali. Tapi ternyata saya keliru. Saya justru menemukan novel ini terpampang di Gramedia secara tidak sengaja. Tanpa pikir panjang, saya langsung membelinya apalagi harganya juga sangat murah mengingat novel ini adalah novel jadul.

Tampil dengan cover hitam dan sedikit noda darah segar yang jatuh dari sepasang taring membuat novel ini terlihat garang dan elegan. Namun setelah saya membacanya, sosok Dracula yang digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan justru tidak tampak di sini. Saya sempat berpikir di sini akan tampak Dracula sedang menikmati mangsanya. Tapi itu tidak ada. Tidak ada bagian yang memperlihatkan keganasan seorang Dracula yang terkenal bengis.

Meski begitu, saya masih bisa merasakan terror yang diciptakan oleh Count Dracula sendiri. Menurut saya nuansa gelapnya sangat terasa apalagi saat Count Dracula mengincar Lucy Westenra. Bram Stoker berhasil membawa suasana itu. Hal ini mungkin dikarenakan oleh cara penuturan kisahnya yang unik. Kisah ini tidak menggunakan sudut pandang orang ketiga tapi menggunakan sudut pandang orang pertama yang bercerita melalui catatan harian.

Hal ini terasa unik karena kita bisa dengan mudah mengetahui jalan pikiran masing-masing tokoh. Pembaca juga dituntut untuk bersabar karena alur yang maju mundur sehingga membuat beberapa bagian cerita jadi berulang. Dengan gaya penceritaan semacam ini saya seolah ikut menjadi bagian dari cerita. Tapi beberapa bagian sangat datar hingga terkesan sangat lambat. Namun semakin ke sini alurnya berubah jadi cepat dan entah kenapa saya merasa justru ceritanya terlalu dipaksa untuk habis. Jadi, ketika Count Dracula akhirnya kalah, rasanya tidak ada kejutan sama sekali. Tidak ada rasa heroisma di dalamnya yang membuat saya hendak bersorak karena sang vampire terlalu mudah dikalahkaan.

Ada beberapa bagian dalam novel ini yang membuat saya bertanya. Pertama, apa maksud kedatangan Count Dracula ke Inggris. Kedua, mengapa Count Dracula mengincar Lucy Westenra. Ketiga, bagaimana bisa empat orang melakukan transfuse darah untuk orang yang sama padahal setiap orang punya golongan darah yang berbeda. Dan keempat, bagaimana cara Jonathan Harker melarikan diri dari kastil.

Terlepas dari semua itu, novel ini menarik karena Bram Stoker terinpirasi dari Vlad Dracul. Awalnya saya mengira Bram Stoker hanya menggunakan namanya saja tapi dalam cerita dikatakan bahwa Count Dracula memang adalah Vlad Dracul. Inilah yang membuat saya sangat ini membaca novel ini. Novel ini tidak terlalu buruk tapi tidak juga terlalu luar biasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s