Fenomena Apatisme Masyarakat Terhadap Politik di Indonesia

Sebagai negara yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, Indonesia tentu sulit memiliki kendala tersendiri dalam mendengarkan aspirasi masyarakatnya. Wilayah yang begitu luas membuat beberapa daerah di Indonesia, khususnya daerah pelosok, jadi sulit dijangkau. Alhasil, masyarakat yang jauh dari ibukota pun justru jadi bersikap apatis terhadap pemerintahan dan isu-isu politik yang ada.

Apatisme adalah suatu sikap di mana tidak adanya simpati dan antusiasme terhadap sebuah objek. Apatis juga bisa diartikan sebagai sikap cuek atau tidak peduli. Jadi dapat dikatakan bahwa apatisme politik adalah rendahnya simpati dan antusiasme terhadap perkembangan politik yang berujung pada sikap tidak peduli.

Apatisme memang bukan barang baru dalam panggung perpolitikan Indonesia. Apatisme politik sudah ada sejak dulu namun baru mulai dibahas ketika masa reformasi dimulai. Hingga kini apatisme politik tetap menjadi suatu hal yang masih layak untuk dibahas. Apalagi saat ini merupakan era informasi di mana setiap orang bebas mengakses informasi dan bebas menyuarakan pendapat di media sosial.

Meskipun sekarang adalah eranya keterbukaan informasi, tapi masih banyak orang Indonesia yang tidak paham dengan situasi politik di Indonesia. Lebih parahnya lagi, bukan hanya orang awam saja yang tidak paham dengan politik tapi bahkan kalangan terpelajar seperti mahasiswa pun kadang tidak paham dengan perpolitikan di Indonesia.

Saat menghadapi pesta pemilu saja, banyak anak muda yang memutuskan untuk golput. Hal itu berarti mereka enggan untuk turut berpartisipasi dalam proses politik yang berjalan di Indonesia. Padahal satu suara saja bisa menentukan nasib bangsa ke depannya. Jika semua orang berpikiran sama, maka akan seperti apakah wajah politik Indonesia di masa depan?

Seseorang yang bersikap apatis terhadap politik dan pemerintahan juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Ada beragam dalih yang membuat seseorang memutuskan untuk golput. Tidak kenal terhadap calon dan rasa kecewa terhadap politik menjadi dalih yang paling kuat mendorong tumbuhnya sikap apatis. Bagaimana mungkin rakyat mau memilih calon pemimpin yang tidak mereka kenal? Bagaimana mungkin rakyat akan memilih calon pemimpin yang pernah membuat mereka kecewa? Jika tidak ada pilihan lain, maka golput dianggap sebagai jalan terbaik.

Kondisi parlemen Indonesia saat ini memang belum layak dikatakan ideal. Pasalnya masih banyak yang hal yang perlu dibenahi, salah satunya adalah tingkat kepercayaan masyarakat yang semakin berkurang akibat ulah dari parlemen sendiri. Banyak warga Indonesia yang kecewa dengan kinerja parlemen, khususnya masyarakat kelas bawah yang dalam hal ini selalu paling dirugikan. Tingginya kasus korupsi di Indonesia juga menjadi salah satu faktor utama hilangnya kepercayaan masyarakat akan kinerja parlemen.

Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat memang bukanlah perkara mudah. Tapi bukan berarti tidak ada usaha. Salah satu upaya yang paling mudah dilakukan oleh pemerintah sebenarnya adalah transparansi karena itulah yang diinginkan masyarakat. Keterbukaan arus informasi tentu akan sangat memudahkan parlemen untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan adanya tranparansi, maka masyarakat bisa dengan mudah mengakses apa saja yang berkaitan dengan parlemen sehinngga mereka juga bisa tahu bagaimana kondisi parlemen Indonesia saat ini.

Salah satu hal terpenting dari adanya transparansi adalah masyarakat akan menganggap diri mereka dilibatkan langsung dalam politik. Mereka akan senang karena memiliki kebebasan untuk bisa menyampaikan langsung aspirasinya pada parlemen. Dengan begitu, parlemen akan bisa menjalin kedekatan dengan masyarakat sehingga masyarakat pun semakin mengenal parlemen. Hal ini tentu baik untuk mencegah timbulnya sikap apatis.

Apatisme politik masyarakat Indonesia tidak hanya didasari oleh tindakan personal melainkan sudah menjadi sikap umum. Hal ini menandakan adanya opini dalam benak masyarakat mengenai proses politik itu sendiri. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, politik adalah sesuatu yang buruk. Ketika ditanya mengenai perihal politik maka akan ada beragaman tanggapan mulai dari yang berbicara sekenanya hingga yang mengeluarkan pandangan kritis.

Jika dilihat sekali lagi, maka adalah sesuatu yang wajar manakala masyarakat menganggap politik itu buruk dan kotor. Pasalnya hal itu tidak terbentuk dengan sendirinya. Setiap hari masyarakat mengkonsumsi berita dari media massa sementara ada banyak sekali kasus korupsi yang justru mencoreng wajah politik Indonesia. Jadi, bukan salah masyarakat sepenuhnya jika anggapan tersebut kemudian muncul ke permukaan.

Perlu diketahui bahwa dalam hal ini, parlemen semestinya bertugas membersihkan wajah perpolitikan di Indonesia. Parlemen harus menarik simpati masyarakat Indonesia bukan hanya melalui pencitraan yang ditampilkan di televisi melainkan aksi nyata. Karena sejatinya parlemen adalah sebuah forum publik di mana masyarakat seharusnya bebas menyampaikan aspirasinya. Tapi kembali lagi, tidak semua masyarakat Indonesia paham dengan hal tersebut.

Apatisme politik tidak bisa dipandang remeh mengingat Indonesia adalah negara demokrasi di mana masyarakat bebas menyampaikan pendapatnya terhadap penguasa. Maka dari itu, partisipasi masyarakat sangat diperlukan demi tercapainya Indonesia yang sejahtera. Disadari atau tidak apatisme politik bisa memberikan dampak buruk bagi masyarakat ataupun pemerintah. Selama masyarakat umum bersikap pasif, apatis, dan teralihkan oleh konsumerisme atau kebencian dalam sekam, penguasa akan berbuat sesuka hati dan mereka yang dapat bertahan akan dibiarkan untuk merenungkan akibatnya.[1]

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh parlemen adalah sesuatu yang mulia. Hal itu dikarenakan parlemen adalah wakil rakyat yang telah mendapatkan amanah besar dari rakyat. Hanya saja ada segelintir orang yang tega merusak nama baik dari parlemen dan politik. Maka dari itu, dibutuhkan pembenahan kinerja demi mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja parlemen Indonesia.

Untuk mencapai parlemen yang ideal maka pembenahan terhadap nilai dan etika harus dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memunculkan tradisi dan budaya baru sehingga tercipta gerakan sosial yang mampu menumbuhkan suatu perspektif baru. Jika selama ini persepsi masyarakat terhadap politik sangat buruk, maka persepsi bahwa politik itu baik harus diciptakan.

Apatisme politik hanya mungkin diatasi dengan cara membentuk kepemimpinan yang jujur, adil, kredibel dan berdedikasi tinggi. Karena jika tidak maka akan mengakibatkan buruknya kinerja parlemen yang berujung pada hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap penguasa. Maka dari itu, orang-orang yang duduk di kursi penguasa haruslah orang yang baik dan ahli di bidangnya.

Percaya atau tidak, kepemimpinan yang baik mampu mencegah sikap apatis. Orang tidak akan bersikap apatis jika pemimpinnya mampu memberikan inspirasi bagi setiap anggotanya. Demikian halnya parlemen di Indonesia. masyarakat tidak akan bersikap apatis jika parlemen mau mendengar aspirasi mereka, mau merangkul mereka dan lebih dekat dengan mereka.

Oleh karena itu, sebagai warga negara Indonesia yang baik, hendaknya untuk lebih memahami tentang kondisi politik di Indonesia. Hindari bersikap apatis dan tanamkan kepedulian terhadap gerakan politik di Indonesia. Bersikap apatis sama sekali bukan identitas bangsa Indonesia karena kemerdekaan tak akan pernah direbut jika masyarakat Indonesia bersikap apatis.

Daftar Pustaka

Chomsky, Noam.  2016. Who Rules the World?.  Yogyakarta: Bentang Pustaka

[1] Noam Chomsky,  Who Rules the World?, Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2016, hlm. 5.

Diterbitkan di Sosial Politik Filsafat UGM

Advertisements

Belajar dari Kisah Mahabharata

Beberapa bulan terakhir, MNC TV memutar kembali serial epik paling asal India yaitu, Mahabharata. Sebelumnya serial tersebut juga pernah diputar di stasiun ANTV yang berhasil mendapatkan antusiasme tinggi dari penonton. Namanya juga serial, ada yang suka dan ada yang tidak. Kebetulan saya adalah salah satu orang yang suka dengan serial tersebut. Sebenarnya bukan serialnya, melainkan kisahnya. Yah, ada banyak hal sekali yang menarik dari kisah tentang perseteruan Pandawa dan Kurawa ini.

Bagi sebagian orang, kisah ini mungkin kurang menarik. Ceritanya yang panjang, alur yang rumit, serta banyaknya karakter tokoh, akan membuat sebagian orang akan merasa bosan, apalagi kisah ini akan sulit dimengerti jika tidak disimak dari awal. Tapi bagi penggemar epos dan sejarah pasti kisah ini sangat menyenangkan. Betapa tidak, kisah panjang dengan alur rumit itu saling terkait satu sama lain sehingga terjalinlah suatu kisah yang indah.

Saya tidak ingin berkisah panjang lebar tentang kisah Mahabharata karena akan sangat panjang. Intinya, Mahabharata berkisah tentang perseteruan lima Pandawa dengan seratus Kurawa yang tidak lain adalah sepupu mereka sendiri. Keduanya berseteru perihal hak pemerintahan Kerajaan Hastinapura. Puncak dari perseteruan ini berakhir dalam Perang Bharatayudha yang berlangsung selama 18 hari di Kurusetra.

Kisah Mahabharata mengandung banyak nilai kepahlawanan dan juga nilai kehidupan. Namun, bagi pemeluk agama Hindu kisah ini mengandung banyak nilai religius. Maka tidak heran jika kisah ini pun dianggap suci dan istimewa oleh pemeluk agama Hindu.

Saya memang belum banyak menikmati kisah adaptasi Mahabharata lainnya sehingga saya tidak ingin membandingkan mana yang paling baik. Saya hanya menikmati kisah epos populer ini dari serial India yang diproduksi oleh Star Plus. Dulu saya pernah menyaksikan kisah adaptasi Mahabharata sewaktu SD. Pertama film layar lebar berjudul Pandawa Lima yang saya lupa kapan rilisnya, dan kedua sinetron laga berjudul Mahabharata di Indosiar.

Jadi ketika saya menonton film berjudul Pandawa Lima tersebut, saya langsung suka meskipun tidak tahu menahu jalan ceritanya. Kala itu saya hanya tahu bahwa Pandawa adalah pahlawan dan Kurawa adalah penjahatnya. Jadi sebagai anak SD, tentu saya menonton hanya untuk melihat para jagoan beraksi membela kebenaran. Belum tahu apa saja nilai-nilai yang bisa dipetik.

Uniknya, selama ini saya tidak pernah tahu bahwa kisah Pandawa Lima adalah bagian dari wiracarita Mahabharata. Saya hanya tahu Pandawa Lima adalah tokoh pewayangan Jawa. Saya pun tahu kalau Mahabharata itu berasal dari India. Dan ironisnya, saya tidak tahu bahwa Pandawa Lima adalah bagian dari kisah Mahabharata. Saya baru tahu hal itu, setelah saya menyaksikan serial Mahabharata produksi Star Plus.

Setelah saya tahu, saya jadi rajin mengikuti ceritanya. Seiring dengan berjalanya kisah, paradigma saya tentang kisah Pandawa dan Kurawa pun berubah. Ada tokoh-tokoh yang tidak pernah saya dengar namanya, tapi justru memiliki kehebatan yang setara bahkan melebihi Arjuna. Jika selama ini kita hanya mendengar Arjuna sebagai sosok heroik dalam Mahabharata, maka jangan lupakan sosok Bisma, Guru Drona, dan Karna Raja Angga. Dan dari ketiga, tokoh hebat tersebut, saya paling suka dan paling simpati pada Karna. Bisa dibilang Karna adalah karakter favorit saya dalam kisah ini. Selain Karna, ada hal-hal lain yang saya sukai dari wiracarita ini.

Pertama, hubungan sebab akibat

Bagi saya, sebuah kisah disebut baik apabila memiliki unsur sebab akibat yang tajam. Artinya, semua hal yang terjadi selalu dilandasi oleh penyebab yang jelas. Setiap hal yang terjadi selalu memiliki jawaban. Setiap pertanyaan “kenapa” selalu bisa dijawab dengan “karena”. Contohnya “mengapa Perang Bharatayudha bisa terjadi?”. Maka akan dengan mudah menemukan jawabannya dari berbagai sudut pandang tokoh.

Karena hubungan sebab akibat yang sangat baik, setiap peristiwa pun saling memliki keterkaitan. Setiap tokoh punya permasalahan masing-masing yang ajaibnya berujung pada terjadinya Perang Bharatayudha. Setiap peristiwa memiliki benang merah yang terhubung satu sama lain sehingga setiap tokoh yang terlibat dalam Perang Bharatayudha memiliki visi masing-masing terlepas dari peperangan antara kebaikan melawan kejahatan.

Selain itu, Mahabharata menampilkan banyak nama raja besar pada zaman India Kuno, seperti Bharata, Kuru, Parikesit, dan Janamejaya. Hal ini kemudian membuat kisah epic ini terasa sangat nyata dikarenakan penuturan silsilah kerajaan yang sangat kompleks. Terlepas apakah kisah ini adalah kisah nyata atau hanya sekedar wiracarita, kisah Mahabharata benar-benar menyuguhkan cerita yang anggun.

Kedua, karakter abu-abu

Ada banyak sekali karakter dalam Mahabharata. Setiap karakter memiliki kekuatan sendiri yang mampu membangun jalannya cerita. Menariknya ada beberapa tokoh yang memiliki ideologinya sendiri sehingga setiap karakter ini dapat dibuatkan cerita spin-off. Artinya tidak ada tokoh yang benar-benar sentral dalam kisah ini. Tidak ada tokoh yang terlalu menonjol. Well, mungkin jika ada karakter yang paling menonjol itu adalah Arjuna. Tapi kembali lagi, ada beberapa karakter yang tidak sepopuler Arjuna tapi memiliki kehebatan yang setara bahkan lebih kuat dari Arjuna.

Jika cerita pada umumnya hanya menampilkan tokoh baik dan tokoh jahat, maka lain halnya dengan Mahabharata. Dalam epic ini, setiap tidak ada tokoh yang benar-benar ‘baik’ atau tokoh yang benar-benar jahat. Hampir setiap tokoh pernah melakukan suatu perbuatan yang boleh dikatakan tidak terpuji. Itulah yang membuat penokohan jadi terlihat lebih manusiawi karena sejatinya manusia adalah tempatnya kesalahan.

Yudistira sebagai salah satu tokoh protagonis yang bisa dikatakan sempurna karena hampir semua sifat baik ada dalam dirinya, juga pernah melakukan kesalahan. Hal itu adalah manakala ia mempertaruhkan Drupadi dalam permainan dadu. Meskipun Drupadi adalah istrinya, namun sebagai suami, Yudistira tidak berhak menjadikan Drupadi sebagai barang taruhan.

Sementara itu, ada Guru Drona, yang karena sumpahnya akan menjadikan Arjuna sebagai pemanah terbaik, membuat ia tega membuat seorang anak memotong jempol kanannya. Hal itu dilakukannya agar tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Arjuna. Padahal jika Guru Drona tidak melakukan hal itu, bisa saja anak yang bernama Ekalawya tersebut menjadi pemanah yang jauh lebih hebat dari pada Arjuna.

Ketiga, perbedaan tipis antara baik dan buruk

Biasanya, setiap kisah yang menampilkan perseteruan antara baik dan buruk akan menunjukkan perbedaan nyata antara baik dan buruk itu sendiri. Tapi tidak halnya dalam kisah Mahabharata. Dalam kisah ini saya justru menemukan bahwa perbedaan antara kebaikan dan keburukan sangatlah tipis. Begitu juga perbedaaan antara keadilan dan ketidakadilan.

Hal itu terlihat sangat jelas ketika Perang Bharatayudha meletus. Perang yang diklaim sebagai perang antara kebaikan melawan keburukan ini justru memberikan banyak kisah lain. Sebagai contoh, pihak Kurawa yang mengeroyok Abimanyu padahal ada peraturan perang yang menyatakan untuk tidak mengeroyok prajurit yang sedang sendirian. Atau Arjuna yang menyerang Karna padahal saat itu Karna sedang tidak bersenjata. Ini menunjukkan bahwa ada kecurangan yang terjadi di antara kedua pihak. Pihak yang mendukung kebaikan dan pihak yang mendukung kejahatan.

Keempat, penuh dengan nilai-nilai kehidupan

Alur cerita yang kompleks dengan banyak karakter membuat kisah ini sarat akan nilai-nilai kehidupan. Sebut saja nilai religius yang direpresentasikan dalam sosok Basudeva Krishna. Lalu ada unsur feminisme yang dilambangkan dalam sosok Drupadi manakala seorang wanita mampu menjadi penyebab terjadinya perang besar Bharatayudha.

Dalam sosok Arjuna, Karna, Bisma, dan Guru Drona ada nilai kepahlawan seperti rela berkorban, membela kebenaran, serta menegakkan keadilan. Ada pula kelima sosok Pandawa yang memberikan contoh betapa indahnya sebuah persaudaraan. Di lain pihak, ada Duryudana dan Sangkuni yang mengajarkan kita bahwa akan selalu ada orang yang siap menjatuhkan kita kapan saja dengan cara apapun.

Selain nilai-nilai yang direpresentasikan dalam beberapa karakter tersebut, masih ada banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari kisah tersebut. secara pribadi pelajaran yang bisa saya petik dari kisah tersebut antara lain adalah:

  • Tuhan tidak akan pernah membiarkan kejahatan menang melawan kebaikan
  • Wanita bukanlah makhluk lemah, karena terkadang di balik sebuah peristiwa besar ada wanita di baliknya.
  • Pahlawan bukanlah dia yang paling kuat, tapi pahlawan adalah dia yang rela berkorban demi orang lain.
  • Kemampuan seseorang tidak dinilai dari mana dia berasal, melainkan murni dari seberapa besar kemampuan orang tersebut
  • Kita tidak bisa memaksakan apa yang menjadi kehendak kita pada orang lain
  • Dalam hidup ada kalanya kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan, karenanya kewaspadaan adalah salah satu hal terpenting
  • Tidak semua hal harus dipatuhi, terkadang ada hal tertentu yang membuat kita harus melanggar sebuah peraturan jika itu adalah sesuatu yang kurang baik
  • Balas dendam tidak ada manfaatnya, karena balas dendam hanya akan membuat kita rugi secara materi maupun secara batin.
  • Memelihara iri hati hanya akan membuat kita semakin menderita
  • Hendaknya kita tidak selalu asal bicara, karena sejatinya kata-kata yang sudah terlontar tidak dpat ditarik kembali.
  • Kita harus terus belajar untuk mendapatkan apa kita inginkan
  • Passion sangat penting untuk menunjang keberhasilan
  • Untuk mencapai hasil yang baik selalu ada strategi yang baik pula
  • Komitmen dan loyalitas adalah sebuah hal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan
  • Sebuah hubungan keluarga pun akan hancur jika tidak dibarengi dengan rasa cinta

Sebenarnya masih banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah Mahabharata, namun menuliskannya satu per satu tidak akan cukup. Hal-hal di atas hanya sebagian kecil saja atau bisa dibilang itulah yang paling berkesan di benak saya. Terlepas dari apakah kisah ini menarik atau tidak, saya kira itu kembali lagi pada selera.

Penampilan dan Kecurigaan

Don’t judge a book by it’s cover. Entah sudah berapa kali kita mendengarkan pepatah ini. Seolah tidak ada matinya pepatah populer ini terus saja mengingatkan kita untuk tidak serta merta menilai seseorang hanya dengan melihat penampilannya. Berbicara tentang penampilan saya punya sedikit cerita. Bisa dikatakan cerita ini kurang menyenangkan untuk saya pribadi.

Beberapa hari yang lalu, saya ditugaskan untuk mengundang semua tetangga karena kakak saya baru saja melahirkan anak keempatnya dan bermaksud menyelenggarakan aqiqah. Karena kakak dan suaminya baru saja pindah ke sana, jadilah mereka belum terlalu kenal dengan para tetangga, apalagi kakak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ibu dengan alasan kesepian.

Saya pun berangkat dengan senang hati untuk mengundang para tetangga. Satu per satu rumah tetangga saya datangi hingga akhirnya tibalah saya di sebuah rumah bercat kuning. Rumah tersebut terletak hanya beberapa meter dari rumah kakak. Hanya ada satu rumah yang memisahkan rumah kakak dengan rumah tersebut. ketika saya hendak memencet bel pagar, tiba-tiba seorang wanita berpakaian batik turun dari sepeda motornya.

Melihat dari gelagatnya, sepertinya wanita tersebut adalah si pemilik rumah. Lalu saya pun menghampirinya. Dan ternyata benar si wanita tersebut adalah pemilik rumah karena ia mengeluarkan kunci lalu membuka kunci pagar. Setelah pagar terbuka, saya pun menolehkan kepala sedikit ke dalam. Lalu si wanita tersebut keluar dan berkata, ”Mau apa? Cari siapa?” dengan nada judes dan wajah jutek. Begitu saya menjelaskan maksud kedatangan saya, maka berubahlah raut wajah si wanita tersebut. Wajah yang tadinya jutek berubah dengan drastic menjadi wajah yang ramah.

Segera ia mempersilakan saya masuk dan duduk. Saya bisa melihat dengan jelas ada rasa tidak enak dari caranya memperlakukan saya, apalagi setelah ia berkata, “Aduh, maaf ya, saya tidak ladeni ki’ dengan baik.” Artinya, maaf saya tidak menjamu Anda dengan baik. Begitu saya permisi untuk pulang, ia pun mengantarkan saya ke pagar sambil terus meminta maaf berkali-kali. Saya pun heran, mengapa si wanita itu terus-menerus minta maaf.

Ketika akhirnya saya sadar dengan apa yang terjadi, saya pun merasa malas. Saya jadi malas mendengar kata-kata minta maaf dari si wanita. Jangankan untuk menjawabnya, untuk menoleh padanya pun saya sudah enggan. Akhirnya saya pulang dengan perasaan dongkol setengah mati.

Berangkat dari cerita tersebut, saya kembali tersadar bahwa pepatah populer tersebut sama sekali tidak ada artinya. Jangan menilai seseorang dari penampilannya. Tapi tidak bisa dipungkiri penampilan menjadi hal pertama yang diperhatikan saat kita bertemu orang lain. Penampilan yang baik tentu akan menghasilkan kesan yang baik, sebaliknya penampilan yang buruk akan menghasilkan kesan buruk pada kita.

Dalam cerita saya tadi, si wanita tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Kesalahan (jika bisa disebut kesalahan) si wanita adalah karena ia langsung memberikan penilaian negatif pada orang yang bahkan belum ia kenal. Hal yang saya tangkap dari perlakuan si wanita pada saya adalah ia mungkin berpikir bahwa saya mendatangi rumahnya untuk meminta sumbangan, apalagi saat itu saya memang membawa dompet. Tapi jika memang saya benar ingin meminta sumbangan, maka ia juga tidak seharusnya bersikap begitu pada orang lain, apalagi saat itu ia tengah mengenakan seragam kerja yang menunjukkan kelasnya sebagai wanita karir.

Sementara kesalahan saya sendiri adalah karena kurang memperhatikan penampilan. Kala itu penampilan saya mungkin agar sedikit kusut atau memang kurang bling-bling. Tapi pakaian seperti apakah yang pantas dikenakan untuk mengantarkan undangan? Saya rasa pakaian sederhana yang rapi itu sudah cukup. Waktu itu saya memakai kemeja panjang yang dipadukan dengan jeans, persis seperti gaya mahasiswi. Mungkin memang ada yang salah dengan pakaian saya hingga si wanita tersebut salah menduga saya sebagai orang yang hendak meminta sumbangan.

Berkaca dari cerita di atas, penampilan memang sangat penting. Salah penampilan sedikit saja maka akan mengundang kecurigaan dari orang lain. Bukan salah mereka juga jika mereka menvonis kita hanya karena kita salah kostum. Kitalah yang harus membangun image untuk diri sendiri. Orang lain hanya perlu menilai. Apapun penilaian mereka, itu menjadi hak bagi mereka. Satu yang terpenting adalah bahwa kita adalah kita.

Tapi terlepas dari itu semua, pepatah populer di atas juga tidak semestinya kita lupakan. Karena penampilan terbaik bukanlah segalanya. Seseorang mungkin terlihat buruk namun siapa sangka ternyata ia memiliki hati yang bersih. Seseorang mungkin terlihat baik tapi siapa sangka ia memiliki hati yang kotor. Intinya, penampilan baik atau buruk semuanya adalah pilihan. Tinggal kitalah yang harus memilih bagaimana cara membagun citra diri sendiri.

Pengalaman Nonton Film G30S/ PKI

Sebenarnya saya mau menuliskan hal ini dari beberapa hari yang lalu, tapi karena padatnya kesibukan jadilah saya baru bisa menulis sekarang. Meskipun sekarang sudah tanggal 3 Oktober, tapi saya pikir tidak ada salahnya jika baru menuliskannya sekarang. Jadi, yang ingin saya ceritakan adalah tentang film Pengkhianatan G30s/PKI. Tapi bukan isi dari filmnya karena semua pasti sudah tahu apa yang diceritakan di dalam film ini. Bukan pula tentang ideologi yang dibahas dalam film ini. Saya hanya ingin bercerita sedikit tentang beberapa hal terkait film ini.

Sejak dulu, atau tepatnya sejak SMP, saya sangat ingin menonton film ini. Kenapa? Karena waktu itu saya baru saja belajar tentang G30S/PKI di dalam pelajaran sejarah. Kemudian saya tiba-tiba teringat kalau cerita ini ada filmnya. Saya ingat pernah menonton filmnya waktu masih jaman SD, kira-kira kelas 1 pada tahun 1998. Waktu itu saya ingat neneklah yang paling antusias menonton film ini.  Tapi karena itu sudah lama sekali, jadilah saya tidak ingat apa-apa kecuali adegan pembuka di mana foto para korban ditampilkan. Itulah sebabnya saya ingin sekali menonton film ini. Karena tak lengkap rasanya jika telah membaca sejarahnya namun belum menonton filmnya.

Kembali ke jaman SMP. Saya pun mencari tahu bagaimana caranya untuk bisa menonton film tersebut. Tapi kakak saya berkata bahwa film itu sudah tidak pernah diputar lagi sejak rezim orba tumbang alias sudah bukan tontonan wajib. Jadilah saya bingung sendiri karena saya juga tidak tahu harus menemukan kaset VCDnya di mana dan waktu itu saya belum mengenal download film. Akhirnya perlahan keinginan itu pun mulai memudar.

Nah, beberapa waktu belakangan ini entah kenapa media sering sekali memberitakan soal PKI. Katanya ada isu bahwa PKI bangkit kembali, makanya kita disarankan untuk menonton ulang film ini agar kita ingat sejarah. Iya betul juga sebenarnya. Saya pun juga perlahan sudah mulai lupa, mungkin saja karena waktu untuk membaca juga mulai minim. Tapi terlepas apakah isu itu benar atau hanya sekedar itu, menurut saya tidak ada salahnya kita menonton film ini. Anggap saja kita belajar sejarah lewat film.

Akhirnya salah satu stasiun TV swasta pun menayangkan film ini secara eksklusif. Awalnya saya pikir tidak akan ada jeda iklan mengingat film ini berdurasi hampir 4 jam. Tapi tetap saja ada jeda iklan walaupun cuma tiga dan yang paling menyebalkan adalah tetap kena disensor. Meskipun tidak berlebihan tapi tetap saja rasanya aneh dan kurang enak ditonton. Padahal film ini ditayangkan saat tengah malam di mana sangat kecil kemungkinan ada anak di bawah umur yang menyaksikannya. Ini juga sempat jadi dilema karena generasi mudalah yang paling harus menonton film ini tapi adanya adegan kekerasan menjadi kendala tersendiri.

Saya memang tidak tahan melihat adegan kekerasan dan sadis tapi lebih tidak tahan lagi melihat adegan yang disensor. Masih lebih baik jika saya harus menutup mata jika ada adegan sadis daripada harus melihat adegan diblur atau dicut. Kita jadi seperti penonton yang tidak tahu apa-apa. Di film ini, ada adegan di mana DN. Aidit sedang merokok. Terus rokoknya itu diblur bulat. Serius, saya hampir mengira kalau itu adalah permen karet, karena bulat seperti gelembung yang keluar dari mulut.

Ada juga adegan di mana para anggota PKI sedang rapat. Ada kain merah di belakang DN. Aidit. Saya kira itu bendera merah putih. Tapi setelah diperhatikan hanya ada warna merah, yang putih itu tembok. Setelah diperhatikan lebih lama, barulah jelas kalau di situ ada lambang PKI yang diblur. Di sinilah saya merasa bodoh. Saya benar-benar mengira bahwa yang dibelakang DN. Aidit itu hanyalah kain merah biasa. Tapi karena saking maunya nonton film ini, akhirnya bertahan juga.

Masalah adegan kekerasan dalam film ini, menurut saja masih wajar. Saya masih sanggup melihat kalau hanya sekedar adegan tembak-menembak. Satu-satunya adegan yang tidak sanggup saya lihat adalah ketika anggota cakrabirawa menyayat wajah para korban dengan menggunakan silet. Adegan ini tidak diblur atau dicut tapi disuramkan alias hitam putih. Selain itu, tidak ada yang terlalu sadis. Hanya di bagian akhir saat jenazah para jenderal diangkat dari sumur di Lubang Buaya. Semua jenazah diblur.

Meskipun begitu ada beberapa adegan yang membuat saya jadi mengharu biru, yaitu adegan saat Ade Irma tertembak, saat jenderal Ahmad Yani ditembak di depan putra kecilnya, saat jenderal DI. Panjaditan ditembak ketika sedang khusu berdoa, dan saat putri jenderal DI Panjaitan menyapukan darah ayahnya ke wajahnya. Inilah yang membuat saya bertahan menonton hingga empat setengah jam.

Menonton film ini cukup menguras emosi. Dibuka dengan lagu Gugur Bunga yang terdengar begitu menyayat hati, suara musik pendukung yang lumayan mencekam, dan sinematografi yang apa adanya ala tahun 1980an. Tapi justru itulah yang membuat sensasi menonton film ini seperti menonton film dokumenter. Karena para pemainnya benar-benar mirip dengan aslinya. Dan menurut saya yang paling mirip dengan aslinya adalah pemeran lejten Ahmad Yani.

Walaupun kisah dalam film sesuai dengan sejarah yang diajarkan di sekolah, tapi tetap saja ada nuansa orba sehingga terkesan sangat subjektif. Setelah menonton film ini, saya pun jadi mengerti kenapa film ini dulu menjadi tontonan wajib di era orba dan berhenti ditayangkan tiap tahun saat rezim orba tumbang. Tapi namanya juga film, di mana ada villain di situ ada hero. Terlepas dari siapa yang villain dan siapa yang hero, film ini tetap perlu ditonton agar kita tidak lupa akan sejarah. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

Keimanan Bukan Warisan

Setiap orang tua tentu mengharapkan anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Tapi apakah kemudian harapan itu mampu melahirkan sosok manusia yang memiliki iman dan akhlak yang baik? Tentu tidak. Terkadang kita bisa melihat orang-orang yang boleh dikatakan religius tapi memiliki anak yang sama sekali berbeda dengan kelakuan orang tuanya. Atau sebaliknya ada anak yang shaleh tapi orang tuanya justru biasa-biasa saja.

Di lingkungan tempat saya tinggal, ada seorang anak yang taat beragama dan sangat jago dalam berdakwah. Ia mendapatkan ilmunya itu karena mengenyam pendidikan di salah satu pesantren di Sulawesi Selatan. Tapi hal kontras justru terlihat pada orang tuanya yang lebih mementingkan uang dibandingkan beribadah. Sang ibu bahkan tidak mengenakan hijab dan bebas keluar rumah dengan pakaian ketat.  Nah, inilah bukti bahwa status keimanan seseorang bukanlah warisan dari orang tuanya.

Kita tentu tahu dengan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Raihan.

Iman tak dapat diwarisi,

Dari seorang ayah yang bertakwa,

Ia tak dapat dijual beli,

Ia tiada di tepian pantai.

Lantas, apa bukti bahwa keimanan seseorang tidak dapat diwariskan?

Lihatlah kisah Nabi Nuh as dengan anaknya yang bernama Kan’an. Keimanan yang dimiliki oleh Nabi Nuh sudah tidak diragukan lagi. Tapi setelah berdakwah selama 950 tahun lamanya, beliau justru tidak mampu mengajak putranya ke jalan Allah. Atau kisah Nabi Ibrahim as dengan ayahnya. Beliau merupakan putra dari seorang pembuat patung berhala bernama Aazar. Meskipun ayahnya penyembah berhala maka tak lantas membuat Nabi Ibrahim turut menyembah berhala.

Keimanan maupun ketidakimanan tidak serta merta diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Ketaatan orang tua pada agama belum tentu melahirkan anak-anak yang juga taat beragama. Artinya, keimanan dan ketakwaan seseorang tidak diturunkan oleh orang tuanya. Butuh usaha dan kerja keras untuk mendapatkan keimanan apalagi untuk tetap mempertahankannya.

Jadi kita tentu tidak memiliki hak untuk menilai kadar keimanan seseorang hanya dengan meilhat siapa orang tuanya. Kita bukanlah hakim yang bisa seenaknya menghakimi seseorang lantaran memiliki orang tua yang terlihat tidak beriman. Karena pada dasarnya kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan orang lain. Kita juga tidak bisa memaksakan keimanan pada seseorang karena kita bukanlah pemberi hidayah pada orang lain.

Tapi meskipun iman tidak dapat diwariskan, bukan berarti kita membiarkannya begitu saja. Kita tentu harus mengajarkan syariat dan nilai-nilai Islam pada keluarga kita. Setelah itu, serahkan semuanya pada Allah karena Dialah yang Maha Mengetahui kadar keimanan seseorang.

Akhirul qalam, semoga Allah senantiasa memberikan nikmat dan hidayahnya agar kita mampu menjaga keimanan dan tetap istiqomah di jalan-Nya.

Jangan Buang Uang Koinmu!

Uang merupakan alat pembayaran yang sah dalam transaksi perdagangan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Di Indonesia sendiri uang yang beredar berupa uang kartal yaitu uang kertas dan uang koin. Meski begitu, kebanyakan orang justru bertransaksi dengan menggunakan uang kertas dibandingkan dengan uang koin. Nominalnya yang terbilang kecil membuat uang koin kerap dilupakan bahkan terkadang hanya ditelantarkan oleh si empunya.

Alasan berat dan rempong dibawa ke mana-mana juga menjadi faktor mengapa orang malas menggunakan uang yang terbuat dari logam ini. bukan Cuma pembeli saja yang malas membawanya, si penjual pun juga kadang enggan menerima uang koin. Tidak semua begitu hanya saja ada beberapa toko yang terang-terangan menolak penggunaan uang koin alias uang receh.

Suatu ketika saya pergi ke sebuah counter pulsa karena hendak membeli pulsa. Di atas meja terpampang tulisan yang berbunyi “Tidak Terima Uang Receh/ Koin dan uang Kusut”. Toko pulsa ini adalah satu dari sekian toko yang menolak pembeli yang berbelanja dengan uang receh. Padahal uang koin adalah uang juga dan masih menjadi alat pembayaran yang sah. Mungkin si penjual malas menghitung uang recehan yang bisa menghabiskan  waktu berjam-jam.

Memang terkadang kita pun juga bingung saat memiliki banyak uang receh. Karena kita tidak mungkin memasukkan semuanya ke dalam dompet karena pasti akan berat. Karena hal ini akhirnya kita jadi malas memiliki uang receh. Alhasil uang koin hasil kembalian saat belanja malah tidak kita ambil dan dibiarkan begitu saja dengan alasan ‘diikhlaskan’. Bahkan kita juga tidak merasa kehilangan saat uang pecahan 100, 200, atau 500 Rupiah kita tercecer. Tapi pernahkah kita berpikir sudah berapa banyak uang yang kita buang hanya karena malas membawanya?

Meski nominal dan ukurannya kecil, bukan berarti uang koin tidak ada gunanya. Uang koin memiliki segudang manfaat yang bahkan melebihi manfaat uang kertas. Jika uang kertas hanya digunakan sebagai alat pembayaran, maka lain halnya dengan uang koin. Tidak hanya sebatas alat pembayaran, uang koin bisa mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah menabung.

Saat kecil orang tua kita tentu pernah mengajarkan untuk menabung. Tabungan yang dimaksud adalah sebuah celengan yang berbentuk lucu. Di celengan itulah kita memasukkan uang koin yang diberikan orang tua. Saat celengan tersebut menjadi berat, maka perasaan bangga pun akan muncul dan betapa senangnya kita saat celengan tersebut dibuka. Betapa bahagianya kita saat melihat ada banyak sekali uang yang keluar dari celengan tersebut.

Meski kita pernah melakukannya saat kecil, tapi tidak ada salahnya juga jika kita masih menerapkannya saat ini. Saya pun termasuk salah satu orang yang hingga kini masih setia menabung uang koin. Bukan apa-apa, saya hanya merasa tertarik saja untuk melakukannya dan ada rasa senang tersendiri kala uang tersebut berhasil terkumpul dan menjadi uang kertas dengan nominal yang besar.

Caranya mudah saja, kita bisa menukarkannya di minimarket atau warung terdekat. Mereka tentu membutuhkan uang receh untuk kembalian. Kita semua pasti pernah merasakan saat uang kembalian kita ditukar dengan permen lantaran si penjual tidak punya uang kecil. Padahal hal itu sebenarnya tidak adil. Kita sebagai konsumen tetap berhak atas uang kembalian meskipun hanya sebesar 100 Rupiah. Maka dari itu, jika uang receh yang kita kumpulkan telah banyak maka segera tukarkan. Tentunya kedua pihak akan sama-sama untung.

Masih ada banyak sekali manfaat uang koin yang bisa kita rasakan. Mulai dari sebagai alat kerokan, alat pembayaran yang pas, hingga sebagai alat untuk beramal karena kita bisa memberikan uang koin yang kita miliki pada orang yang lebih membutuhkan. Sekecil apapun akan sangat bermanfaat. Maka dari itu, jangan buang uang receh jika tidak ingin kehilangan manfaat.

Dracula (1897) by Bram Stoker

Apa yang terlintas di pikiran kita saat mendengar kata vampire? Apakah sosok yang mengerikan atau justru sosok keren yang bisa membuat siapa saja jatuh hati. Saat ini mungkin kita akan membayangkan vampire sebagai sosok keren yang mengagumkan. Hal ini tidak lain karena kesuksesan seorang Stephanie Meyer yang telah menciptakan karakter vampire tampan Edward Cullen. Maka tidak heran jika vampire yang sebelumnya adalah sosok mengerikan akhirnya berubah menjadi sosok baik sebagai pahlawan.

Berbeda dengan vampire yang diciptakan oleh Stephanie Meyer, jauh sebelum kita mengenal Edward Cullen, Bram Stoker telah lebih dulu memperkenalkan sosok vampire melalui karyanya yang berjudul “Dracula”. Meski Bram Stoker memiliki karya lainnya, namun kisah vampire bernama Count Dracula inilah yang paling terkenal. Jika Stephanie Meyer menciptakan vampire tampan yang akan berkilau di bawah sinar matahari, maka lain halnya dengan vampire ciptaan Bram Stoker. Vampir yang diciptakannya memiliki tubuh yang tinggi, berhidung bengkok, dan bergigi runcing. Ia tinggal di sebuah kastil di wilayah Transylvania.

Bram Stoker menciptakan novel Dracula pada 1897 dengan mengusung genre horror gothic. Novel ini berkisah tentang Count Dracula, yang bermukim di Inggris namun berencana untuk pindah ke Inggris. Ia pun melibatkan seorang pria bernama Jonathan Harker untuk membantunya memeriksa kelengkapan surat-suratnya karena ia ingin membeli beberapa tempat di Inggris.

Jonathan Harker pun mengunjungi kliennya tanpa mengetahui terlebih dahulu latar belakannya. Setibanya di Transylvania, Jonathan merasa bingung mengapa warga mencegahnya untuk ke kastil. Namun ia tidak mengindahkannya. Saat Jonathan bertemu dengan Count Dracula dan tinggal di kastil tersebut, perlahan ia mulai mengalami beberapa hal aneh. Jonathan yang terkurung dalam kastil pun harus berusaha tetap sadar agar ia bisa melarikan diri secepatnya.

Sementara itu, di Inggris, Mina Murray yang merupakan kekasih Jonathan Harker kebingungan saat terjadi keanehan pada kesehatan Lucy Westenra, sahabatnya. Lucy yang mengalami gangguan tidur tiba-tiba menjadi aneh setelah Mina mendapatinya duduk bersama seorang pria tidak dikenal. Seorang dokter bernama Dokter Seward pun telah memeriksanya dan mengatakan tidak ada tanda-tanda penykit pada tubuh Lucy.

Akirnya Dokter Seward mengundang Profesor Abraham van Helsing yang tidak lain adalah gurunya dari Amsterdam. Keduanya pun bekerja sama untuk menangani kasus Lucy. Namun Van Helsing justru tidak bisa memberitahu Dokter Seward tentang temuannya karena khawatir ia tidak akan bisa menerima kondisi Lucy apalagi oleh Lord Godalming, kekasih Lucy. Hingga suatu hari, Van Helsing memutuskan untuk memberi tahu mereka semua saat kondisi Lucy yang kian hari kian memburuk. Dari sinilah mereka sadar bahwa ada bahaya besar yang sedang mengancam.

Saya tahu novel ini pertama kali pada tahun 2007 dan baru berhasil membacanya pada tahun 2017. Butuh waktu 10 tahun untuk bisa membaca menemukan novel ini. Saya sempat berpikir jangan-jangan novel ini hanya bisa ditemukan di perpustakaan khusus buku-buku kuno mengingat novel ini sudah lama sekali. Tapi ternyata saya keliru. Saya justru menemukan novel ini terpampang di Gramedia secara tidak sengaja. Tanpa pikir panjang, saya langsung membelinya apalagi harganya juga sangat murah mengingat novel ini adalah novel jadul.

Tampil dengan cover hitam dan sedikit noda darah segar yang jatuh dari sepasang taring membuat novel ini terlihat garang dan elegan. Namun setelah saya membacanya, sosok Dracula yang digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan justru tidak tampak di sini. Saya sempat berpikir di sini akan tampak Dracula sedang menikmati mangsanya. Tapi itu tidak ada. Tidak ada bagian yang memperlihatkan keganasan seorang Dracula yang terkenal bengis.

Meski begitu, saya masih bisa merasakan terror yang diciptakan oleh Count Dracula sendiri. Menurut saya nuansa gelapnya sangat terasa apalagi saat Count Dracula mengincar Lucy Westenra. Bram Stoker berhasil membawa suasana itu. Hal ini mungkin dikarenakan oleh cara penuturan kisahnya yang unik. Kisah ini tidak menggunakan sudut pandang orang ketiga tapi menggunakan sudut pandang orang pertama yang bercerita melalui catatan harian.

Hal ini terasa unik karena kita bisa dengan mudah mengetahui jalan pikiran masing-masing tokoh. Pembaca juga dituntut untuk bersabar karena alur yang maju mundur sehingga membuat beberapa bagian cerita jadi berulang. Dengan gaya penceritaan semacam ini saya seolah ikut menjadi bagian dari cerita. Tapi beberapa bagian sangat datar hingga terkesan sangat lambat. Namun semakin ke sini alurnya berubah jadi cepat dan entah kenapa saya merasa justru ceritanya terlalu dipaksa untuk habis. Jadi, ketika Count Dracula akhirnya kalah, rasanya tidak ada kejutan sama sekali. Tidak ada rasa heroisma di dalamnya yang membuat saya hendak bersorak karena sang vampire terlalu mudah dikalahkaan.

Ada beberapa bagian dalam novel ini yang membuat saya bertanya. Pertama, apa maksud kedatangan Count Dracula ke Inggris. Kedua, mengapa Count Dracula mengincar Lucy Westenra. Ketiga, bagaimana bisa empat orang melakukan transfuse darah untuk orang yang sama padahal setiap orang punya golongan darah yang berbeda. Dan keempat, bagaimana cara Jonathan Harker melarikan diri dari kastil.

Terlepas dari semua itu, novel ini menarik karena Bram Stoker terinpirasi dari Vlad Dracul. Awalnya saya mengira Bram Stoker hanya menggunakan namanya saja tapi dalam cerita dikatakan bahwa Count Dracula memang adalah Vlad Dracul. Inilah yang membuat saya sangat ini membaca novel ini. Novel ini tidak terlalu buruk tapi tidak juga terlalu luar biasa.