Pengalaman Nonton Film G30S/ PKI

Sebenarnya saya mau menuliskan hal ini dari beberapa hari yang lalu, tapi karena padatnya kesibukan jadilah saya baru bisa menulis sekarang. Meskipun sekarang sudah tanggal 3 Oktober, tapi saya pikir tidak ada salahnya jika baru menuliskannya sekarang. Jadi, yang ingin saya ceritakan adalah tentang film Pengkhianatan G30s/PKI. Tapi bukan isi dari filmnya karena semua pasti sudah tahu apa yang diceritakan di dalam film ini. Bukan pula tentang ideologi yang dibahas dalam film ini. Saya hanya ingin bercerita sedikit tentang beberapa hal terkait film ini.

Sejak dulu, atau tepatnya sejak SMP, saya sangat ingin menonton film ini. Kenapa? Karena waktu itu saya baru saja belajar tentang G30S/PKI di dalam pelajaran sejarah. Kemudian saya tiba-tiba teringat kalau cerita ini ada filmnya. Saya ingat pernah menonton filmnya waktu masih jaman SD, kira-kira kelas 1 pada tahun 1998. Waktu itu saya ingat neneklah yang paling antusias menonton film ini.  Tapi karena itu sudah lama sekali, jadilah saya tidak ingat apa-apa kecuali adegan pembuka di mana foto para korban ditampilkan. Itulah sebabnya saya ingin sekali menonton film ini. Karena tak lengkap rasanya jika telah membaca sejarahnya namun belum menonton filmnya.

Kembali ke jaman SMP. Saya pun mencari tahu bagaimana caranya untuk bisa menonton film tersebut. Tapi kakak saya berkata bahwa film itu sudah tidak pernah diputar lagi sejak rezim orba tumbang alias sudah bukan tontonan wajib. Jadilah saya bingung sendiri karena saya juga tidak tahu harus menemukan kaset VCDnya di mana dan waktu itu saya belum mengenal download film. Akhirnya perlahan keinginan itu pun mulai memudar.

Nah, beberapa waktu belakangan ini entah kenapa media sering sekali memberitakan soal PKI. Katanya ada isu bahwa PKI bangkit kembali, makanya kita disarankan untuk menonton ulang film ini agar kita ingat sejarah. Iya betul juga sebenarnya. Saya pun juga perlahan sudah mulai lupa, mungkin saja karena waktu untuk membaca juga mulai minim. Tapi terlepas apakah isu itu benar atau hanya sekedar itu, menurut saya tidak ada salahnya kita menonton film ini. Anggap saja kita belajar sejarah lewat film.

Akhirnya salah satu stasiun TV swasta pun menayangkan film ini secara eksklusif. Awalnya saya pikir tidak akan ada jeda iklan mengingat film ini berdurasi hampir 4 jam. Tapi tetap saja ada jeda iklan walaupun cuma tiga dan yang paling menyebalkan adalah tetap kena disensor. Meskipun tidak berlebihan tapi tetap saja rasanya aneh dan kurang enak ditonton. Padahal film ini ditayangkan saat tengah malam di mana sangat kecil kemungkinan ada anak di bawah umur yang menyaksikannya. Ini juga sempat jadi dilema karena generasi mudalah yang paling harus menonton film ini tapi adanya adegan kekerasan menjadi kendala tersendiri.

Saya memang tidak tahan melihat adegan kekerasan dan sadis tapi lebih tidak tahan lagi melihat adegan yang disensor. Masih lebih baik jika saya harus menutup mata jika ada adegan sadis daripada harus melihat adegan diblur atau dicut. Kita jadi seperti penonton yang tidak tahu apa-apa. Di film ini, ada adegan di mana DN. Aidit sedang merokok. Terus rokoknya itu diblur bulat. Serius, saya hampir mengira kalau itu adalah permen karet, karena bulat seperti gelembung yang keluar dari mulut.

Ada juga adegan di mana para anggota PKI sedang rapat. Ada kain merah di belakang DN. Aidit. Saya kira itu bendera merah putih. Tapi setelah diperhatikan hanya ada warna merah, yang putih itu tembok. Setelah diperhatikan lebih lama, barulah jelas kalau di situ ada lambang PKI yang diblur. Di sinilah saya merasa bodoh. Saya benar-benar mengira bahwa yang dibelakang DN. Aidit itu hanyalah kain merah biasa. Tapi karena saking maunya nonton film ini, akhirnya bertahan juga.

Masalah adegan kekerasan dalam film ini, menurut saja masih wajar. Saya masih sanggup melihat kalau hanya sekedar adegan tembak-menembak. Satu-satunya adegan yang tidak sanggup saya lihat adalah ketika anggota cakrabirawa menyayat wajah para korban dengan menggunakan silet. Adegan ini tidak diblur atau dicut tapi disuramkan alias hitam putih. Selain itu, tidak ada yang terlalu sadis. Hanya di bagian akhir saat jenazah para jenderal diangkat dari sumur di Lubang Buaya. Semua jenazah diblur.

Meskipun begitu ada beberapa adegan yang membuat saya jadi mengharu biru, yaitu adegan saat Ade Irma tertembak, saat jenderal Ahmad Yani ditembak di depan putra kecilnya, saat jenderal DI. Panjaditan ditembak ketika sedang khusu berdoa, dan saat putri jenderal DI Panjaitan menyapukan darah ayahnya ke wajahnya. Inilah yang membuat saya bertahan menonton hingga empat setengah jam.

Menonton film ini cukup menguras emosi. Dibuka dengan lagu Gugur Bunga yang terdengar begitu menyayat hati, suara musik pendukung yang lumayan mencekam, dan sinematografi yang apa adanya ala tahun 1980an. Tapi justru itulah yang membuat sensasi menonton film ini seperti menonton film dokumenter. Karena para pemainnya benar-benar mirip dengan aslinya. Dan menurut saya yang paling mirip dengan aslinya adalah pemeran lejten Ahmad Yani.

Walaupun kisah dalam film sesuai dengan sejarah yang diajarkan di sekolah, tapi tetap saja ada nuansa orba sehingga terkesan sangat subjektif. Setelah menonton film ini, saya pun jadi mengerti kenapa film ini dulu menjadi tontonan wajib di era orba dan berhenti ditayangkan tiap tahun saat rezim orba tumbang. Tapi namanya juga film, di mana ada villain di situ ada hero. Terlepas dari siapa yang villain dan siapa yang hero, film ini tetap perlu ditonton agar kita tidak lupa akan sejarah. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

Advertisements

Dracula (1897) by Bram Stoker

Apa yang terlintas di pikiran kita saat mendengar kata vampire? Apakah sosok yang mengerikan atau justru sosok keren yang bisa membuat siapa saja jatuh hati. Saat ini mungkin kita akan membayangkan vampire sebagai sosok keren yang mengagumkan. Hal ini tidak lain karena kesuksesan seorang Stephanie Meyer yang telah menciptakan karakter vampire tampan Edward Cullen. Maka tidak heran jika vampire yang sebelumnya adalah sosok mengerikan akhirnya berubah menjadi sosok baik sebagai pahlawan.

Berbeda dengan vampire yang diciptakan oleh Stephanie Meyer, jauh sebelum kita mengenal Edward Cullen, Bram Stoker telah lebih dulu memperkenalkan sosok vampire melalui karyanya yang berjudul “Dracula”. Meski Bram Stoker memiliki karya lainnya, namun kisah vampire bernama Count Dracula inilah yang paling terkenal. Jika Stephanie Meyer menciptakan vampire tampan yang akan berkilau di bawah sinar matahari, maka lain halnya dengan vampire ciptaan Bram Stoker. Vampir yang diciptakannya memiliki tubuh yang tinggi, berhidung bengkok, dan bergigi runcing. Ia tinggal di sebuah kastil di wilayah Transylvania.

Bram Stoker menciptakan novel Dracula pada 1897 dengan mengusung genre horror gothic. Novel ini berkisah tentang Count Dracula, yang bermukim di Inggris namun berencana untuk pindah ke Inggris. Ia pun melibatkan seorang pria bernama Jonathan Harker untuk membantunya memeriksa kelengkapan surat-suratnya karena ia ingin membeli beberapa tempat di Inggris.

Jonathan Harker pun mengunjungi kliennya tanpa mengetahui terlebih dahulu latar belakannya. Setibanya di Transylvania, Jonathan merasa bingung mengapa warga mencegahnya untuk ke kastil. Namun ia tidak mengindahkannya. Saat Jonathan bertemu dengan Count Dracula dan tinggal di kastil tersebut, perlahan ia mulai mengalami beberapa hal aneh. Jonathan yang terkurung dalam kastil pun harus berusaha tetap sadar agar ia bisa melarikan diri secepatnya.

Sementara itu, di Inggris, Mina Murray yang merupakan kekasih Jonathan Harker kebingungan saat terjadi keanehan pada kesehatan Lucy Westenra, sahabatnya. Lucy yang mengalami gangguan tidur tiba-tiba menjadi aneh setelah Mina mendapatinya duduk bersama seorang pria tidak dikenal. Seorang dokter bernama Dokter Seward pun telah memeriksanya dan mengatakan tidak ada tanda-tanda penykit pada tubuh Lucy.

Akirnya Dokter Seward mengundang Profesor Abraham van Helsing yang tidak lain adalah gurunya dari Amsterdam. Keduanya pun bekerja sama untuk menangani kasus Lucy. Namun Van Helsing justru tidak bisa memberitahu Dokter Seward tentang temuannya karena khawatir ia tidak akan bisa menerima kondisi Lucy apalagi oleh Lord Godalming, kekasih Lucy. Hingga suatu hari, Van Helsing memutuskan untuk memberi tahu mereka semua saat kondisi Lucy yang kian hari kian memburuk. Dari sinilah mereka sadar bahwa ada bahaya besar yang sedang mengancam.

Saya tahu novel ini pertama kali pada tahun 2007 dan baru berhasil membacanya pada tahun 2017. Butuh waktu 10 tahun untuk bisa membaca menemukan novel ini. Saya sempat berpikir jangan-jangan novel ini hanya bisa ditemukan di perpustakaan khusus buku-buku kuno mengingat novel ini sudah lama sekali. Tapi ternyata saya keliru. Saya justru menemukan novel ini terpampang di Gramedia secara tidak sengaja. Tanpa pikir panjang, saya langsung membelinya apalagi harganya juga sangat murah mengingat novel ini adalah novel jadul.

Tampil dengan cover hitam dan sedikit noda darah segar yang jatuh dari sepasang taring membuat novel ini terlihat garang dan elegan. Namun setelah saya membacanya, sosok Dracula yang digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan justru tidak tampak di sini. Saya sempat berpikir di sini akan tampak Dracula sedang menikmati mangsanya. Tapi itu tidak ada. Tidak ada bagian yang memperlihatkan keganasan seorang Dracula yang terkenal bengis.

Meski begitu, saya masih bisa merasakan terror yang diciptakan oleh Count Dracula sendiri. Menurut saya nuansa gelapnya sangat terasa apalagi saat Count Dracula mengincar Lucy Westenra. Bram Stoker berhasil membawa suasana itu. Hal ini mungkin dikarenakan oleh cara penuturan kisahnya yang unik. Kisah ini tidak menggunakan sudut pandang orang ketiga tapi menggunakan sudut pandang orang pertama yang bercerita melalui catatan harian.

Hal ini terasa unik karena kita bisa dengan mudah mengetahui jalan pikiran masing-masing tokoh. Pembaca juga dituntut untuk bersabar karena alur yang maju mundur sehingga membuat beberapa bagian cerita jadi berulang. Dengan gaya penceritaan semacam ini saya seolah ikut menjadi bagian dari cerita. Tapi beberapa bagian sangat datar hingga terkesan sangat lambat. Namun semakin ke sini alurnya berubah jadi cepat dan entah kenapa saya merasa justru ceritanya terlalu dipaksa untuk habis. Jadi, ketika Count Dracula akhirnya kalah, rasanya tidak ada kejutan sama sekali. Tidak ada rasa heroisma di dalamnya yang membuat saya hendak bersorak karena sang vampire terlalu mudah dikalahkaan.

Ada beberapa bagian dalam novel ini yang membuat saya bertanya. Pertama, apa maksud kedatangan Count Dracula ke Inggris. Kedua, mengapa Count Dracula mengincar Lucy Westenra. Ketiga, bagaimana bisa empat orang melakukan transfuse darah untuk orang yang sama padahal setiap orang punya golongan darah yang berbeda. Dan keempat, bagaimana cara Jonathan Harker melarikan diri dari kastil.

Terlepas dari semua itu, novel ini menarik karena Bram Stoker terinpirasi dari Vlad Dracul. Awalnya saya mengira Bram Stoker hanya menggunakan namanya saja tapi dalam cerita dikatakan bahwa Count Dracula memang adalah Vlad Dracul. Inilah yang membuat saya sangat ini membaca novel ini. Novel ini tidak terlalu buruk tapi tidak juga terlalu luar biasa.

Filosofi Kue Bugis Makassar dalam Pernikahan

Salah satu bagian paling menyenangkan dari hajatan pernikahan adalah banyaknya hidangan yang tersaji. Dalam masyarakat Bugis Makassar, hidangan biasanya tersaji di dalam bosara’. Bosara’ merupakan wadah khusus yang digunakan untuk menyajikan kue-kue tradisional Bugis Makassar. Menariknya kue-kue yang tersaji biasanya hanya dijumpai saat itu saja dan jarang dijumpai pada waktu lain. Karena setiap kue tersebut mengandung makna filosofi bagi pernikahan itu sendiri. Mungkin itu sebabnya kue pernikahan selalu terasa manis.

Salah satu kue Bugis Makassar yang paling manis menurut saya adalah bolu peca. Kue ini memiliki tekstur lembut dan empuk karena terbuat dari bahan dasar tepung ketan atau tepung beras putih. Tapi ada juga yang membuat kue ini dengan menggunakan tepung terigu. Ciri khas dari kue ini adalah gula merah. Kelembutan dan rasa manis dari kue berwarna coklat ini memiliki makna bahwa harapan akan kehidupan yang nanti dijalani oleh kedua mempelai.

Selanjtunya ada beppa pute. Dalam bahasa Bugis, beppa pute artinya kue putih. Disebut demikian karena kue ini memang berwarna putih dengan taburan gula halus di atasnya. Kue berbahan dasar putih telur ini memiliki rasa khas manis dan renyah. Makna dari kue ini adalah harapan dapat membawa berkah dari Allah SWT, seperti kemudahan rezeki, keselamatan, dan harapan akan terwujudnya keluarga sakinah, mawddah, wa rahmah bagi kedua mempelai.

Lalu ada katirisala. Kue tradisional ini terbuat dari beras ketan hitam atau putih, gula merah dan putih telur. Kue ini juga memiliki rasa manis yang khas dan sayangnya tidak begitu saya sukai tapi selalu menjadi favorit. Biasanya kue ini dibuat dalam cetakan khusus berbentuk bundar. Dalam pembuatannya, kue ini terbagi jadi 2 susunan dengan bagian bawah berwarna putih dan bagian atas berwarna hitam. Warna putih adalah beras ketan sedangkan warna hitam adalah kombinasi gula merah dan telur. Saya kurang tahu apa maknanya. Jika melihat dari perpaduan warna gelap dan terang, mungkin ini melambangkan tentang hitam putih kehidupan.

Ada juga kue bannang-bannang yang dalam bahasa Makassar, berarti benang yang saling membentuk jalinan. Disebut dimikian karena kue ini terlihat seperti lilitan benang. Kue tradisional ini bermakna hubungan yang saling terkait antara kedua mempelai dan keluarga yang nantinya saling membutuhkan dan bekerjasama hingga maut memisahkan.

Ada lagi kue yang sangat manis bernama cucuru bayao. Kue ini dibuat dari puluhan kuning telur, kenari, dan gula pasir murni. Rasa yang sangat manis dan aroma yang kuat adalah ciri khas dari kue berwarna kuning ini. Rasa manis ini merupakan simbol dari harapan pasangan yang menikah agar nantinya mereka mampu mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh kebahagiaan. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa perempuan yang memakan kue ini di sebuah pesta pernikahan, maka jodohnya akan segera datang. Entahlah, itu tergantung kepercayaan setiap orang.

Selanjutnya ada kue ajoa. Ajoa sendiri merupakan sebuah alat yang dipasangkan di 2 leher kerbau yang digunakan untuk membajak sawah. Alat ini kemudian ditiru dalam bentuk kue kering. Kue ajoa memiliki rasa yang manis, lembut, dan renyah. Makna dari kue ini adalah kerjasama dari 2 orang yang berpasangan. Pasangan pengantin baru diharapkan agar selalu bisa saling membantu setelah menjalani kehidupan pernikahan.

Ada lagi yang namanya se’ro-se’ro. Se’ro-se’ro merupajan kue kering yang memiliki rasa yang manis dan gurih. Kue ini terbuat dari campuran gula, tepung beras pulut, telur, dan tepung kanji. Se’ro-se’ro memiliki bentuk yang unik, yakni menyerupai timba yang terbuat dari daun nipah, yang dalam bahasa Makassar berarti se’ro. Dalam pernikahan Bugis Makassar, kue ini mengandung filofosi bahwa kedua mempelai akan saling melayani.Dahulu, konon katanya pasangan suami istri yang baru menikah harus bergantian menimbakan air di sumur. Jadi, kehadiran se’ro-se’ro merupakan simbol agar saling mengisi satu sama lain.

Semua kue yang telah saya sebutkan hanyalah contoh dari beberapa kue tradisional Bugis Makassar yang selalu ada di setiap acara pernikahan. Bukan hanya sebagai sajian pelengkap saja, tapi juga ada filosofi yang ingin disampaikan. Percaya atau tidak itu tergantung diri kita masing-masing. Tak ada hak untuk memaksa. Sebagai orang Bugis, tentu saya bangga dengan makna yang ada dalam setiap kue tersebut.

Selama ini saya hanya sebagai penikmat saja. Tidak pernah peduli mengapa kue itu hanya ada dalam setiap pernikahan. Dan memang rasanya agak aneh saja ketika saya menemukan salah satu dari kue tersebut bukan di pesta pernikahan. Sama halnya saya merasa aneh saat harus memakan pisang ijo di luar bulan Ramadhan. Tapi setelah membaca beberapa artikel seputar kue-kue pernikahan dari berbagai sumber, maka saya pun mengetahui apa saja nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam masing-masing kue.

 

 

 

 

Nasu Palekko, Kuliner Pedas Khas Tanah Bugis

Setiap daerah di Indonesia memiliki kuliner khas yang menjadi daya tarik tersendiri bagi warga lokal maupun warga pendatang. Maka dari itu tak heran bila berbicara tentang kuliner Indonesia seolah tidak ada matinya. Sulawesi Selatan merupakan satu dari ribuan daerah di Indonesia yang memiliki beragam kuliner khas yang siap menggoyang lidah, salah satu menu yang tidak terekspos yakni Nasu Palekko.

Nasu Palekko sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Bugis, yakni Nasu yang berarti Masak dan Palekko yang berarti Wajan yang terbuat dari tanah. Jadi, Nasu Palekko artinya memasak menggunakan wajan yang terbuat dari tanah. Karena dahulu masyarakat Bugis memasak Nasu Palekko dengan menggunakan wajan tanah. Namun seiring perkembangan zaman, Nasu Palekko pun dimasak dengan menggunakan wajan aluminium.

Nasu Palekko merupakan kuliner khas Bugis yang diolah dari bahan baku daging bebek muda. Masakan ini juga biasa disebut sebagai ‘Daging Bebek Cincang’ karena dalam proses pembuatannya daging bebek muda yang sudah disembelih akan dipotong kecil-kecil seperti dicincang. Bebek yang digunakan haruslah bebek muda. Karena hal itu akan mempengaruhi keempukan daging saat disantap.

Masakan yang berasal dari Pinrang dan Sidrap ini memang tak sepopuler Coto Makassar ataupun Sop Konro. Namun soal cita rasa Nasu Palekko juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Rasa pedasnya yang khas membuat lidah seakan meleleh saat menyantap daging-daging kecil ini. Hal itu disebabkan karena perpaduan bumbu yang terdiri dari cabai,  bawang merah, bawang putih, jahe, sereh , garam, bumbu rempah-rempah lainnya serta cuka.

Untuk menghadirkan rasa gurih dari bebek muda ini, proses memasak sebaiknya tidak terlalu lama. Karena hal itu akan menghilangkan rasa gurih dan bebek muda serta menjadikan daging bebek akan terasa lengket ketika dikonsumsi.

Bagi pecinta kuliner pedas dan gurih, akan sangat disayangkan bila belum mencicipi Nasu Palekko. Rasa pedas gurihnya akan segera lumer di lidah saat disantap. Akan lebih nikmat jika menyantapnya di siang hari. Karena rasa pedas yang dihasilkan akan berpadu dengan teriknya sinar Matahari sehingga memberikan sensasi rasa yang luar biasa.

Salah satu rumah makan yang menyajikan Nasu Palekko ini yaitu Warung Nasu Palekko milik Ibu Arni. Warung makan yang terletak di jalan Perintis Kemerdekaan km 12 ini menyajikan menu Nasu Palekko sebagai menu utama. Letaknya yang persis berada di pinggir jalan poros membuatnya mudah ditemukan.

Warung Nasu Palekko yang telah berdiri sejak tahun 2007 ini menawarkan Nasu Palekko dengan cita rasa pedas yang original. Warung ini juga menyediakan irisan Lemon untuk menghilangkan rasa amis dari bebek. Untuk merasakan sensasi pedas Nasu Palekko ini, pelanggan perlu merogoh kocek sebesar Rp. 20.000 per porsi. Dengan itu pelanggan sudah bisa menikmati sepiring hidangan Nasu Palekko lengkap dengan nasi.