Fenomena Apatisme Masyarakat Terhadap Politik di Indonesia

Sebagai negara yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, Indonesia tentu sulit memiliki kendala tersendiri dalam mendengarkan aspirasi masyarakatnya. Wilayah yang begitu luas membuat beberapa daerah di Indonesia, khususnya daerah pelosok, jadi sulit dijangkau. Alhasil, masyarakat yang jauh dari ibukota pun justru jadi bersikap apatis terhadap pemerintahan dan isu-isu politik yang ada.

Apatisme adalah suatu sikap di mana tidak adanya simpati dan antusiasme terhadap sebuah objek. Apatis juga bisa diartikan sebagai sikap cuek atau tidak peduli. Jadi dapat dikatakan bahwa apatisme politik adalah rendahnya simpati dan antusiasme terhadap perkembangan politik yang berujung pada sikap tidak peduli.

Apatisme memang bukan barang baru dalam panggung perpolitikan Indonesia. Apatisme politik sudah ada sejak dulu namun baru mulai dibahas ketika masa reformasi dimulai. Hingga kini apatisme politik tetap menjadi suatu hal yang masih layak untuk dibahas. Apalagi saat ini merupakan era informasi di mana setiap orang bebas mengakses informasi dan bebas menyuarakan pendapat di media sosial.

Meskipun sekarang adalah eranya keterbukaan informasi, tapi masih banyak orang Indonesia yang tidak paham dengan situasi politik di Indonesia. Lebih parahnya lagi, bukan hanya orang awam saja yang tidak paham dengan politik tapi bahkan kalangan terpelajar seperti mahasiswa pun kadang tidak paham dengan perpolitikan di Indonesia.

Saat menghadapi pesta pemilu saja, banyak anak muda yang memutuskan untuk golput. Hal itu berarti mereka enggan untuk turut berpartisipasi dalam proses politik yang berjalan di Indonesia. Padahal satu suara saja bisa menentukan nasib bangsa ke depannya. Jika semua orang berpikiran sama, maka akan seperti apakah wajah politik Indonesia di masa depan?

Seseorang yang bersikap apatis terhadap politik dan pemerintahan juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Ada beragam dalih yang membuat seseorang memutuskan untuk golput. Tidak kenal terhadap calon dan rasa kecewa terhadap politik menjadi dalih yang paling kuat mendorong tumbuhnya sikap apatis. Bagaimana mungkin rakyat mau memilih calon pemimpin yang tidak mereka kenal? Bagaimana mungkin rakyat akan memilih calon pemimpin yang pernah membuat mereka kecewa? Jika tidak ada pilihan lain, maka golput dianggap sebagai jalan terbaik.

Kondisi parlemen Indonesia saat ini memang belum layak dikatakan ideal. Pasalnya masih banyak yang hal yang perlu dibenahi, salah satunya adalah tingkat kepercayaan masyarakat yang semakin berkurang akibat ulah dari parlemen sendiri. Banyak warga Indonesia yang kecewa dengan kinerja parlemen, khususnya masyarakat kelas bawah yang dalam hal ini selalu paling dirugikan. Tingginya kasus korupsi di Indonesia juga menjadi salah satu faktor utama hilangnya kepercayaan masyarakat akan kinerja parlemen.

Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat memang bukanlah perkara mudah. Tapi bukan berarti tidak ada usaha. Salah satu upaya yang paling mudah dilakukan oleh pemerintah sebenarnya adalah transparansi karena itulah yang diinginkan masyarakat. Keterbukaan arus informasi tentu akan sangat memudahkan parlemen untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan adanya tranparansi, maka masyarakat bisa dengan mudah mengakses apa saja yang berkaitan dengan parlemen sehinngga mereka juga bisa tahu bagaimana kondisi parlemen Indonesia saat ini.

Salah satu hal terpenting dari adanya transparansi adalah masyarakat akan menganggap diri mereka dilibatkan langsung dalam politik. Mereka akan senang karena memiliki kebebasan untuk bisa menyampaikan langsung aspirasinya pada parlemen. Dengan begitu, parlemen akan bisa menjalin kedekatan dengan masyarakat sehingga masyarakat pun semakin mengenal parlemen. Hal ini tentu baik untuk mencegah timbulnya sikap apatis.

Apatisme politik masyarakat Indonesia tidak hanya didasari oleh tindakan personal melainkan sudah menjadi sikap umum. Hal ini menandakan adanya opini dalam benak masyarakat mengenai proses politik itu sendiri. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, politik adalah sesuatu yang buruk. Ketika ditanya mengenai perihal politik maka akan ada beragaman tanggapan mulai dari yang berbicara sekenanya hingga yang mengeluarkan pandangan kritis.

Jika dilihat sekali lagi, maka adalah sesuatu yang wajar manakala masyarakat menganggap politik itu buruk dan kotor. Pasalnya hal itu tidak terbentuk dengan sendirinya. Setiap hari masyarakat mengkonsumsi berita dari media massa sementara ada banyak sekali kasus korupsi yang justru mencoreng wajah politik Indonesia. Jadi, bukan salah masyarakat sepenuhnya jika anggapan tersebut kemudian muncul ke permukaan.

Perlu diketahui bahwa dalam hal ini, parlemen semestinya bertugas membersihkan wajah perpolitikan di Indonesia. Parlemen harus menarik simpati masyarakat Indonesia bukan hanya melalui pencitraan yang ditampilkan di televisi melainkan aksi nyata. Karena sejatinya parlemen adalah sebuah forum publik di mana masyarakat seharusnya bebas menyampaikan aspirasinya. Tapi kembali lagi, tidak semua masyarakat Indonesia paham dengan hal tersebut.

Apatisme politik tidak bisa dipandang remeh mengingat Indonesia adalah negara demokrasi di mana masyarakat bebas menyampaikan pendapatnya terhadap penguasa. Maka dari itu, partisipasi masyarakat sangat diperlukan demi tercapainya Indonesia yang sejahtera. Disadari atau tidak apatisme politik bisa memberikan dampak buruk bagi masyarakat ataupun pemerintah. Selama masyarakat umum bersikap pasif, apatis, dan teralihkan oleh konsumerisme atau kebencian dalam sekam, penguasa akan berbuat sesuka hati dan mereka yang dapat bertahan akan dibiarkan untuk merenungkan akibatnya.[1]

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh parlemen adalah sesuatu yang mulia. Hal itu dikarenakan parlemen adalah wakil rakyat yang telah mendapatkan amanah besar dari rakyat. Hanya saja ada segelintir orang yang tega merusak nama baik dari parlemen dan politik. Maka dari itu, dibutuhkan pembenahan kinerja demi mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja parlemen Indonesia.

Untuk mencapai parlemen yang ideal maka pembenahan terhadap nilai dan etika harus dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memunculkan tradisi dan budaya baru sehingga tercipta gerakan sosial yang mampu menumbuhkan suatu perspektif baru. Jika selama ini persepsi masyarakat terhadap politik sangat buruk, maka persepsi bahwa politik itu baik harus diciptakan.

Apatisme politik hanya mungkin diatasi dengan cara membentuk kepemimpinan yang jujur, adil, kredibel dan berdedikasi tinggi. Karena jika tidak maka akan mengakibatkan buruknya kinerja parlemen yang berujung pada hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap penguasa. Maka dari itu, orang-orang yang duduk di kursi penguasa haruslah orang yang baik dan ahli di bidangnya.

Percaya atau tidak, kepemimpinan yang baik mampu mencegah sikap apatis. Orang tidak akan bersikap apatis jika pemimpinnya mampu memberikan inspirasi bagi setiap anggotanya. Demikian halnya parlemen di Indonesia. masyarakat tidak akan bersikap apatis jika parlemen mau mendengar aspirasi mereka, mau merangkul mereka dan lebih dekat dengan mereka.

Oleh karena itu, sebagai warga negara Indonesia yang baik, hendaknya untuk lebih memahami tentang kondisi politik di Indonesia. Hindari bersikap apatis dan tanamkan kepedulian terhadap gerakan politik di Indonesia. Bersikap apatis sama sekali bukan identitas bangsa Indonesia karena kemerdekaan tak akan pernah direbut jika masyarakat Indonesia bersikap apatis.

Daftar Pustaka

Chomsky, Noam.  2016. Who Rules the World?.  Yogyakarta: Bentang Pustaka

[1] Noam Chomsky,  Who Rules the World?, Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2016, hlm. 5.

Diterbitkan di Sosial Politik Filsafat UGM

Advertisements

Belajar dari Kisah Mahabharata

Beberapa bulan terakhir, MNC TV memutar kembali serial epik paling asal India yaitu, Mahabharata. Sebelumnya serial tersebut juga pernah diputar di stasiun ANTV yang berhasil mendapatkan antusiasme tinggi dari penonton. Namanya juga serial, ada yang suka dan ada yang tidak. Kebetulan saya adalah salah satu orang yang suka dengan serial tersebut. Sebenarnya bukan serialnya, melainkan kisahnya. Yah, ada banyak hal sekali yang menarik dari kisah tentang perseteruan Pandawa dan Kurawa ini.

Bagi sebagian orang, kisah ini mungkin kurang menarik. Ceritanya yang panjang, alur yang rumit, serta banyaknya karakter tokoh, akan membuat sebagian orang akan merasa bosan, apalagi kisah ini akan sulit dimengerti jika tidak disimak dari awal. Tapi bagi penggemar epos dan sejarah pasti kisah ini sangat menyenangkan. Betapa tidak, kisah panjang dengan alur rumit itu saling terkait satu sama lain sehingga terjalinlah suatu kisah yang indah.

Saya tidak ingin berkisah panjang lebar tentang kisah Mahabharata karena akan sangat panjang. Intinya, Mahabharata berkisah tentang perseteruan lima Pandawa dengan seratus Kurawa yang tidak lain adalah sepupu mereka sendiri. Keduanya berseteru perihal hak pemerintahan Kerajaan Hastinapura. Puncak dari perseteruan ini berakhir dalam Perang Bharatayudha yang berlangsung selama 18 hari di Kurusetra.

Kisah Mahabharata mengandung banyak nilai kepahlawanan dan juga nilai kehidupan. Namun, bagi pemeluk agama Hindu kisah ini mengandung banyak nilai religius. Maka tidak heran jika kisah ini pun dianggap suci dan istimewa oleh pemeluk agama Hindu.

Saya memang belum banyak menikmati kisah adaptasi Mahabharata lainnya sehingga saya tidak ingin membandingkan mana yang paling baik. Saya hanya menikmati kisah epos populer ini dari serial India yang diproduksi oleh Star Plus. Dulu saya pernah menyaksikan kisah adaptasi Mahabharata sewaktu SD. Pertama film layar lebar berjudul Pandawa Lima yang saya lupa kapan rilisnya, dan kedua sinetron laga berjudul Mahabharata di Indosiar.

Jadi ketika saya menonton film berjudul Pandawa Lima tersebut, saya langsung suka meskipun tidak tahu menahu jalan ceritanya. Kala itu saya hanya tahu bahwa Pandawa adalah pahlawan dan Kurawa adalah penjahatnya. Jadi sebagai anak SD, tentu saya menonton hanya untuk melihat para jagoan beraksi membela kebenaran. Belum tahu apa saja nilai-nilai yang bisa dipetik.

Uniknya, selama ini saya tidak pernah tahu bahwa kisah Pandawa Lima adalah bagian dari wiracarita Mahabharata. Saya hanya tahu Pandawa Lima adalah tokoh pewayangan Jawa. Saya pun tahu kalau Mahabharata itu berasal dari India. Dan ironisnya, saya tidak tahu bahwa Pandawa Lima adalah bagian dari kisah Mahabharata. Saya baru tahu hal itu, setelah saya menyaksikan serial Mahabharata produksi Star Plus.

Setelah saya tahu, saya jadi rajin mengikuti ceritanya. Seiring dengan berjalanya kisah, paradigma saya tentang kisah Pandawa dan Kurawa pun berubah. Ada tokoh-tokoh yang tidak pernah saya dengar namanya, tapi justru memiliki kehebatan yang setara bahkan melebihi Arjuna. Jika selama ini kita hanya mendengar Arjuna sebagai sosok heroik dalam Mahabharata, maka jangan lupakan sosok Bisma, Guru Drona, dan Karna Raja Angga. Dan dari ketiga, tokoh hebat tersebut, saya paling suka dan paling simpati pada Karna. Bisa dibilang Karna adalah karakter favorit saya dalam kisah ini. Selain Karna, ada hal-hal lain yang saya sukai dari wiracarita ini.

Pertama, hubungan sebab akibat

Bagi saya, sebuah kisah disebut baik apabila memiliki unsur sebab akibat yang tajam. Artinya, semua hal yang terjadi selalu dilandasi oleh penyebab yang jelas. Setiap hal yang terjadi selalu memiliki jawaban. Setiap pertanyaan “kenapa” selalu bisa dijawab dengan “karena”. Contohnya “mengapa Perang Bharatayudha bisa terjadi?”. Maka akan dengan mudah menemukan jawabannya dari berbagai sudut pandang tokoh.

Karena hubungan sebab akibat yang sangat baik, setiap peristiwa pun saling memliki keterkaitan. Setiap tokoh punya permasalahan masing-masing yang ajaibnya berujung pada terjadinya Perang Bharatayudha. Setiap peristiwa memiliki benang merah yang terhubung satu sama lain sehingga setiap tokoh yang terlibat dalam Perang Bharatayudha memiliki visi masing-masing terlepas dari peperangan antara kebaikan melawan kejahatan.

Selain itu, Mahabharata menampilkan banyak nama raja besar pada zaman India Kuno, seperti Bharata, Kuru, Parikesit, dan Janamejaya. Hal ini kemudian membuat kisah epic ini terasa sangat nyata dikarenakan penuturan silsilah kerajaan yang sangat kompleks. Terlepas apakah kisah ini adalah kisah nyata atau hanya sekedar wiracarita, kisah Mahabharata benar-benar menyuguhkan cerita yang anggun.

Kedua, karakter abu-abu

Ada banyak sekali karakter dalam Mahabharata. Setiap karakter memiliki kekuatan sendiri yang mampu membangun jalannya cerita. Menariknya ada beberapa tokoh yang memiliki ideologinya sendiri sehingga setiap karakter ini dapat dibuatkan cerita spin-off. Artinya tidak ada tokoh yang benar-benar sentral dalam kisah ini. Tidak ada tokoh yang terlalu menonjol. Well, mungkin jika ada karakter yang paling menonjol itu adalah Arjuna. Tapi kembali lagi, ada beberapa karakter yang tidak sepopuler Arjuna tapi memiliki kehebatan yang setara bahkan lebih kuat dari Arjuna.

Jika cerita pada umumnya hanya menampilkan tokoh baik dan tokoh jahat, maka lain halnya dengan Mahabharata. Dalam epic ini, setiap tidak ada tokoh yang benar-benar ‘baik’ atau tokoh yang benar-benar jahat. Hampir setiap tokoh pernah melakukan suatu perbuatan yang boleh dikatakan tidak terpuji. Itulah yang membuat penokohan jadi terlihat lebih manusiawi karena sejatinya manusia adalah tempatnya kesalahan.

Yudistira sebagai salah satu tokoh protagonis yang bisa dikatakan sempurna karena hampir semua sifat baik ada dalam dirinya, juga pernah melakukan kesalahan. Hal itu adalah manakala ia mempertaruhkan Drupadi dalam permainan dadu. Meskipun Drupadi adalah istrinya, namun sebagai suami, Yudistira tidak berhak menjadikan Drupadi sebagai barang taruhan.

Sementara itu, ada Guru Drona, yang karena sumpahnya akan menjadikan Arjuna sebagai pemanah terbaik, membuat ia tega membuat seorang anak memotong jempol kanannya. Hal itu dilakukannya agar tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Arjuna. Padahal jika Guru Drona tidak melakukan hal itu, bisa saja anak yang bernama Ekalawya tersebut menjadi pemanah yang jauh lebih hebat dari pada Arjuna.

Ketiga, perbedaan tipis antara baik dan buruk

Biasanya, setiap kisah yang menampilkan perseteruan antara baik dan buruk akan menunjukkan perbedaan nyata antara baik dan buruk itu sendiri. Tapi tidak halnya dalam kisah Mahabharata. Dalam kisah ini saya justru menemukan bahwa perbedaan antara kebaikan dan keburukan sangatlah tipis. Begitu juga perbedaaan antara keadilan dan ketidakadilan.

Hal itu terlihat sangat jelas ketika Perang Bharatayudha meletus. Perang yang diklaim sebagai perang antara kebaikan melawan keburukan ini justru memberikan banyak kisah lain. Sebagai contoh, pihak Kurawa yang mengeroyok Abimanyu padahal ada peraturan perang yang menyatakan untuk tidak mengeroyok prajurit yang sedang sendirian. Atau Arjuna yang menyerang Karna padahal saat itu Karna sedang tidak bersenjata. Ini menunjukkan bahwa ada kecurangan yang terjadi di antara kedua pihak. Pihak yang mendukung kebaikan dan pihak yang mendukung kejahatan.

Keempat, penuh dengan nilai-nilai kehidupan

Alur cerita yang kompleks dengan banyak karakter membuat kisah ini sarat akan nilai-nilai kehidupan. Sebut saja nilai religius yang direpresentasikan dalam sosok Basudeva Krishna. Lalu ada unsur feminisme yang dilambangkan dalam sosok Drupadi manakala seorang wanita mampu menjadi penyebab terjadinya perang besar Bharatayudha.

Dalam sosok Arjuna, Karna, Bisma, dan Guru Drona ada nilai kepahlawan seperti rela berkorban, membela kebenaran, serta menegakkan keadilan. Ada pula kelima sosok Pandawa yang memberikan contoh betapa indahnya sebuah persaudaraan. Di lain pihak, ada Duryudana dan Sangkuni yang mengajarkan kita bahwa akan selalu ada orang yang siap menjatuhkan kita kapan saja dengan cara apapun.

Selain nilai-nilai yang direpresentasikan dalam beberapa karakter tersebut, masih ada banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari kisah tersebut. secara pribadi pelajaran yang bisa saya petik dari kisah tersebut antara lain adalah:

  • Tuhan tidak akan pernah membiarkan kejahatan menang melawan kebaikan
  • Wanita bukanlah makhluk lemah, karena terkadang di balik sebuah peristiwa besar ada wanita di baliknya.
  • Pahlawan bukanlah dia yang paling kuat, tapi pahlawan adalah dia yang rela berkorban demi orang lain.
  • Kemampuan seseorang tidak dinilai dari mana dia berasal, melainkan murni dari seberapa besar kemampuan orang tersebut
  • Kita tidak bisa memaksakan apa yang menjadi kehendak kita pada orang lain
  • Dalam hidup ada kalanya kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan, karenanya kewaspadaan adalah salah satu hal terpenting
  • Tidak semua hal harus dipatuhi, terkadang ada hal tertentu yang membuat kita harus melanggar sebuah peraturan jika itu adalah sesuatu yang kurang baik
  • Balas dendam tidak ada manfaatnya, karena balas dendam hanya akan membuat kita rugi secara materi maupun secara batin.
  • Memelihara iri hati hanya akan membuat kita semakin menderita
  • Hendaknya kita tidak selalu asal bicara, karena sejatinya kata-kata yang sudah terlontar tidak dpat ditarik kembali.
  • Kita harus terus belajar untuk mendapatkan apa kita inginkan
  • Passion sangat penting untuk menunjang keberhasilan
  • Untuk mencapai hasil yang baik selalu ada strategi yang baik pula
  • Komitmen dan loyalitas adalah sebuah hal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan
  • Sebuah hubungan keluarga pun akan hancur jika tidak dibarengi dengan rasa cinta

Sebenarnya masih banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah Mahabharata, namun menuliskannya satu per satu tidak akan cukup. Hal-hal di atas hanya sebagian kecil saja atau bisa dibilang itulah yang paling berkesan di benak saya. Terlepas dari apakah kisah ini menarik atau tidak, saya kira itu kembali lagi pada selera.

Pengalaman Nonton Film G30S/ PKI

Sebenarnya saya mau menuliskan hal ini dari beberapa hari yang lalu, tapi karena padatnya kesibukan jadilah saya baru bisa menulis sekarang. Meskipun sekarang sudah tanggal 3 Oktober, tapi saya pikir tidak ada salahnya jika baru menuliskannya sekarang. Jadi, yang ingin saya ceritakan adalah tentang film Pengkhianatan G30s/PKI. Tapi bukan isi dari filmnya karena semua pasti sudah tahu apa yang diceritakan di dalam film ini. Bukan pula tentang ideologi yang dibahas dalam film ini. Saya hanya ingin bercerita sedikit tentang beberapa hal terkait film ini.

Sejak dulu, atau tepatnya sejak SMP, saya sangat ingin menonton film ini. Kenapa? Karena waktu itu saya baru saja belajar tentang G30S/PKI di dalam pelajaran sejarah. Kemudian saya tiba-tiba teringat kalau cerita ini ada filmnya. Saya ingat pernah menonton filmnya waktu masih jaman SD, kira-kira kelas 1 pada tahun 1998. Waktu itu saya ingat neneklah yang paling antusias menonton film ini.  Tapi karena itu sudah lama sekali, jadilah saya tidak ingat apa-apa kecuali adegan pembuka di mana foto para korban ditampilkan. Itulah sebabnya saya ingin sekali menonton film ini. Karena tak lengkap rasanya jika telah membaca sejarahnya namun belum menonton filmnya.

Kembali ke jaman SMP. Saya pun mencari tahu bagaimana caranya untuk bisa menonton film tersebut. Tapi kakak saya berkata bahwa film itu sudah tidak pernah diputar lagi sejak rezim orba tumbang alias sudah bukan tontonan wajib. Jadilah saya bingung sendiri karena saya juga tidak tahu harus menemukan kaset VCDnya di mana dan waktu itu saya belum mengenal download film. Akhirnya perlahan keinginan itu pun mulai memudar.

Nah, beberapa waktu belakangan ini entah kenapa media sering sekali memberitakan soal PKI. Katanya ada isu bahwa PKI bangkit kembali, makanya kita disarankan untuk menonton ulang film ini agar kita ingat sejarah. Iya betul juga sebenarnya. Saya pun juga perlahan sudah mulai lupa, mungkin saja karena waktu untuk membaca juga mulai minim. Tapi terlepas apakah isu itu benar atau hanya sekedar itu, menurut saya tidak ada salahnya kita menonton film ini. Anggap saja kita belajar sejarah lewat film.

Akhirnya salah satu stasiun TV swasta pun menayangkan film ini secara eksklusif. Awalnya saya pikir tidak akan ada jeda iklan mengingat film ini berdurasi hampir 4 jam. Tapi tetap saja ada jeda iklan walaupun cuma tiga dan yang paling menyebalkan adalah tetap kena disensor. Meskipun tidak berlebihan tapi tetap saja rasanya aneh dan kurang enak ditonton. Padahal film ini ditayangkan saat tengah malam di mana sangat kecil kemungkinan ada anak di bawah umur yang menyaksikannya. Ini juga sempat jadi dilema karena generasi mudalah yang paling harus menonton film ini tapi adanya adegan kekerasan menjadi kendala tersendiri.

Saya memang tidak tahan melihat adegan kekerasan dan sadis tapi lebih tidak tahan lagi melihat adegan yang disensor. Masih lebih baik jika saya harus menutup mata jika ada adegan sadis daripada harus melihat adegan diblur atau dicut. Kita jadi seperti penonton yang tidak tahu apa-apa. Di film ini, ada adegan di mana DN. Aidit sedang merokok. Terus rokoknya itu diblur bulat. Serius, saya hampir mengira kalau itu adalah permen karet, karena bulat seperti gelembung yang keluar dari mulut.

Ada juga adegan di mana para anggota PKI sedang rapat. Ada kain merah di belakang DN. Aidit. Saya kira itu bendera merah putih. Tapi setelah diperhatikan hanya ada warna merah, yang putih itu tembok. Setelah diperhatikan lebih lama, barulah jelas kalau di situ ada lambang PKI yang diblur. Di sinilah saya merasa bodoh. Saya benar-benar mengira bahwa yang dibelakang DN. Aidit itu hanyalah kain merah biasa. Tapi karena saking maunya nonton film ini, akhirnya bertahan juga.

Masalah adegan kekerasan dalam film ini, menurut saja masih wajar. Saya masih sanggup melihat kalau hanya sekedar adegan tembak-menembak. Satu-satunya adegan yang tidak sanggup saya lihat adalah ketika anggota cakrabirawa menyayat wajah para korban dengan menggunakan silet. Adegan ini tidak diblur atau dicut tapi disuramkan alias hitam putih. Selain itu, tidak ada yang terlalu sadis. Hanya di bagian akhir saat jenazah para jenderal diangkat dari sumur di Lubang Buaya. Semua jenazah diblur.

Meskipun begitu ada beberapa adegan yang membuat saya jadi mengharu biru, yaitu adegan saat Ade Irma tertembak, saat jenderal Ahmad Yani ditembak di depan putra kecilnya, saat jenderal DI. Panjaditan ditembak ketika sedang khusu berdoa, dan saat putri jenderal DI Panjaitan menyapukan darah ayahnya ke wajahnya. Inilah yang membuat saya bertahan menonton hingga empat setengah jam.

Menonton film ini cukup menguras emosi. Dibuka dengan lagu Gugur Bunga yang terdengar begitu menyayat hati, suara musik pendukung yang lumayan mencekam, dan sinematografi yang apa adanya ala tahun 1980an. Tapi justru itulah yang membuat sensasi menonton film ini seperti menonton film dokumenter. Karena para pemainnya benar-benar mirip dengan aslinya. Dan menurut saya yang paling mirip dengan aslinya adalah pemeran lejten Ahmad Yani.

Walaupun kisah dalam film sesuai dengan sejarah yang diajarkan di sekolah, tapi tetap saja ada nuansa orba sehingga terkesan sangat subjektif. Setelah menonton film ini, saya pun jadi mengerti kenapa film ini dulu menjadi tontonan wajib di era orba dan berhenti ditayangkan tiap tahun saat rezim orba tumbang. Tapi namanya juga film, di mana ada villain di situ ada hero. Terlepas dari siapa yang villain dan siapa yang hero, film ini tetap perlu ditonton agar kita tidak lupa akan sejarah. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

Jangan Pilih Kasih dalam Tolong-Menolong

Kadang kita bersikap baik hingga berlebihan kepada seseorang yang kita percayai. Di saat yang sama banyak pula orang yang bersikap tidak peduli pada orang lain. Bahkan ada yang cenderung memerangi ketika berbeda pendapat dengannya. Seharusnya kita tidak boleh pilih kasih dalam bertindak. Ketika kita berniat menolong orang lain , maka sebaiknya tidak memandang latar belakangnya. Apapun agamanya, pendidikan apa, dari daerah mana, atau apapun itu, jika memang berniat menolong maka  langsunglah menolongnya.

Ironisnya, masih banyak dari kita yang masih suka pilih kasih dalam menolong. Padahal Islam tidak pernah menganjurkan kita untuk pilih kasih. Karena Allah juga tidak pernah pilih kasih kepada hamba-hamba-Nya. Kita juga terkadang pilih kasih dalam kehidupan bertetangga. Padahal Rasulullah telah mengajarkan kepada kita untuk saling berbagi.

Seringkali kita sesama muslim juga saling bertengkar. Persoalan sepele seperti salah paham kerap menjadi pemicu pertengkaran. Lebih parahnya lagi, ada juga kelompok tertentu dalam Islam yang melarang kelompok lainnya untuk masuk ke mesjid di wilayah tertentu. Mengapa itu terjadi? Bukankah masjid menjadi hak bagi setiap umat Islam? Siapapun itu, selama ia muslim, maka tentu punya hak beribadah di masjid. Karena Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan untuk pilih kasih kepada kelompok tertentu.

Kita juga sering menemukan fakta banyaknya muslim yang mendapat perlakuan tidak adil dari ormas muslim lainnya. Bahkan ada yang mengucap takbir sebelum memukul saudara seimannya. Sebenarnya apa yang membuat sesama muslm kadang memerangi muslim lainnya? Bahkan ada juga yang tega melarang umat agama non muslim untuk beribadah di rumah ibadahnya. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa kita harus pilih kasih? bukankah mereka juga manusia yang memiliki hak yang sama dengan kita?

Maka dari itu, mari kita berikan perlakuan yang sama kepada setiap manusia. Mari kita hilangkan kebencian yang selama ini menyelimuti hati kita. Hindarkan diri kita dari sifat negatif yang berpotensi memic pertengkaran. Mari menciptakan kedamaian. Jagalah kerukunan antar umat beragama demi menghindari konflik yang mengatasnamakan agama. Jangan pilih kasih saat ingin berbuat baik. Lupakan perbedaan suku, agama, ras atau apapun yang berbeda. Karena semua sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.

Portugal Juara. Pantas atau Hanya Beruntung?

Beruntung. Ya kata itulah yang pantas disematkan kepada Sang Juara Eropa 2016, Portugal. Walaupun menampilkan serangkaian permainan yang cukup membosankan di fase grup, Cristiano Ronaldo dkk, akhirnya berhasil keluar sebagai juara setelah menekuk tuan rumah, Prancis, di babak final dengan skor tipis 1-0.

Portugal lolos ke fase gugur tanpa kemenangan sekalipun di babak penyisihan grup. Mereka melaju ke babak 16 besar dengan hanya menyandang status sebagai peringkat 3 terbaik. Mereka bahkan nyaris tidak pernah mencetak gol di waktu normal. Kemenangan pertama mereka terjadi di babak 16 besar saat Portugal menang atas Kroasia berkat gol tunggal Ricardo Quaresma di babak extra time.

Permainan membosankan kembali ditampilkan Portugal kala mereka harus berhadapan dengan Polandia yang berakhir adu penalti dengan mereka sebagai pemenang. Saat laga menghadapi Wales di semifinal, barulah Portugal mampu menang di waktu normal dengan skor 2-0.

Rentetan hasil itu lantas membuat Portugal disebut-sebut tidak layak masuk babak final. Akan tetapi mereka justru mampu menepis anggapan miring semua orang. Mereka mampu mengalahkan Prancis yang jauh lebih diunggulkan. Entah hanya karena keberuntungan atau karena mereka memang pantas menjadi juara, yang jelas mereka telah menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi yang terbaik di panggung sepakbola terakbar se-Benua Biru.

Jika dilihat sepanjang turnamen sepertinya Dewi Fortuna memang sangat menaungi tim dengan julukan Seleccao das Quinas ini. Berikut merupakan rentetan keberuntungan  yang menghampiri timnas Portugal.

  • Adanya penambahan jumlah Negara peserta yang biasnya hanya 16 negara kini menjadi 24 negara. Penambahan jumlah ini membuat 4 negara harus bersaing menjadi juara 3 terbaik. Permaninan Portugal yang hanya mengalami 3 kali imbang membuatnya harus memperoleh 3 poin saja. Jika saja tidak ada peraturan seperti ini, maka sudah dipastikan timnas Portugal akan pulang lebih awal.
  • Karena Portugal keluar sebagai juara 3 terbaik di grup F, maka lawan yang dihadapinya adalah Kroasia yang merupakan juara 2 grup D. Jika Portugal keluar sebagai juara grup maka tentu lain lagi ceritanya.
  • Portugal menang atas Polandia melalui adu penalty. Sepanjang jalannya pertandingan kedua tim tidak menunjukkan permainan yang impresif. Permainan baru menanjak saat memasuki babak Extra Time namun tetap belum ada kemenangan hingga akhirnya adu penalty pun jadi pilihan. Dan yang namanya adu penalty semua hal bisa terjadi. Peluang bola masuk gawang sama besar dengan peluang bola tidak masuk gawang. Maka benar-benar harus ada mental kuat dari setiap penendang dan tentu saja faktor keberuntungan.
  • Setelah mengalahkan Wales di babak semifinal, Portugal pun memastikan diri lolos ke babak final. Sehari kemudian Prancis pun memastikan hal yang sama. Jika saja yang menang bukan Prancis melainkan Jerman, maka bisa saja peluang Portugal untuk menang sangat tipis bahkan mungkin akan mudah dikalahkan.

Well, apapun itu yang jelas Portugal sudah menasbihkan dirinya sebagai Raja Eropa 2016. Terlepas dari faktor teknis atau sekedar keberuntungan, yang jelas Cristiano Ronaldo dkk, telah berhasil merengkuh trofi Henry Delauney.

Klaksonmu, Harimaumu

Kemacetan sudah bukan lagi pemandangan langka di Indonesia, khusunya Makassar. Volume kendaraan yang kian  hari kian meningkat menjadi salah satu pemicu terjadinya kemacetan. Kepemilikan kendaraan yang sangat dipermudah dan sewa angkutan umum yang relatif lebih mahal membuat warga lebih cenderung memilih kendaraan pribadi sebagai alat transportasi. Namun, bukan itu yang menjadi bahasan utama, melainkan adanya fenomena suara klakson di tengah padatnya arus lalu lintas.

Entah apa yang ada dalam pirkirian mereka yang terus saja membunyikan klakson di tengah kemacetan. Mereka tentu tahu bahwa hal itu tidak akan mengurai kemacetan. Hal itu justru hanya akan menjadikan pengendara dan pengguna jalan lainnya merasa terganggu dan semakin stress. Bayangkan saja jika kemacetan terjadi di siang hari lalu berpadu dengan suara raungan mesin kendaraan yang minta agar segera dilajukan dan suara bising klakson yang sangat menusuk telinga. Pastilah sangat mengganggu. Bagaimana jika ada pengendara yang kaget karena mendengar suara klakson? Siapa yang akan bertanggung jawab jika itu terjadi? Tentu kita tidak ingin jika hal semacam itu terjadi. Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita bijak dalam menggunakan jalan raya.

Jalan raya bukan hanya menjadi milik kita sendiri, tetapi milik seluruh warga Indonesia. Membunyikan klakson bisa menimbulkan kesan angkuh jika yang melakukan adalah pengemudi mobil. Terkadang ada pengemudi mobil yang memang dengan sengaja mengklakson seolah-olah “mengusir” pengguna jalan lain yang dianggap menghalangi jalannya. Padalah semesetinya klakson hanya digunakan saat hanya perlu, misalnya saja bagi pengendara  sepeda motor yang mengklakson pada pengemudi mobil yang sedang mundur untuk memberi tahu keberadaannya di belakang mobil agar tidak terjadi tabrakan. Untuk itu, kita perlu tahu kapan harus mengklakson dan tidak mengklakson.

 

 

 

 

Fakta Pertandingan Jerman vs Italia

Jerman menantang Italia dengan membawa rekor pertemuan negatif. Dari delapan kali bentrok di ajang kompetitif, Jerman belum pernah mengalahkan Italia dengan empat kali kalah dan empat kali imbang. Bahkan Jerman, sang juara dunia empat kali dan tiga Piala Eropa, selalu kalah dari Italia di Piala Dunia dan Piala Eropa di fase knock out, termasuk di semifinal Piala Dunia 1970, final Piala Dunia 1982, semfinal Piala Dunia 2006, dan semifinal Piala Eropa 2012. 

Namun, rekor Jerman di babak perempat final Piala Eropa 2016 lebih baik ketimbang Italia. Dari lima kesempatan lolos ke perempat final Piala Eropa, Jerman selalu sukses melaju ke semifinal, sedangkan Italia hanya menang dua kali dan kalah dua kali dari empat kesempatan terakhir di babak perempat final.

Berikut fakta pertandingan Jerman vs Italia seperti dikutip dari laman sindonews.com

  • Gli Azzurri -julukan Italia- menang 2-0 atas Jerman di Dortmund pada semifinal Piala Dunia 2006 berkat gol di akhir perpanjangan waktu dari Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero. Gianluigi Buffon adalah kiper untuk Italia saat itu; sedangkan Lukas Podolski dan pemain pengganti Bastian Schweinsteiger tampil untuk Jerman.
  • Italia dan Jerman (Barat) bentrok pada semifinal Piala Dunia 1970, dimenangkan Azzurri 4-3 setelah perpanjangan waktu
  • Jerman belum kebobolan dalam lima pertandingan beruntun (termasuk empat di Piala Eropa 2016) sejak kalah 1-3 dari Slovakia pada laga persahabatan praturnamen.
  • Ini adalah pertandingan pertama Jerman di Bordeaux. Sedangkan bagi Italia merupakan perjalanan kedua menyusul hasil imbang 2-2 dari Cile pada fase grup Piala Dunia 1998.
  • Die Mannschaft -julukan Jerman- berpartisipasi di Piala Eropa dalam 12 edisi beruntun sejak mereka gagal tampil (sebagai Jerman Barat) pada Piala Eropa 1968, yang merupakan partisipasi pertama di kualifikasi.
  • Jerman memenangi Piala Eropa edisi 1972, 1980, dan 1996, serta tiga kali menjadi runner-up. Terakhir kali Jerman absen dari semifinal pada tahun 2004, ketika mereka terhenti di fase grup
  • Kekalahan Italia dari Republik Irlandia pada matchday tiga penyisihan grup, menghentikan empat kemenangan berturut-turut Pasukan Antonio Conte, di mana mereka tidak kebobolan satu gol pun sebelum itu. Mereka juga telah memenangkan lima dari enam pertandingan terakhir mereka, menjaga clean sheet dalam setiap kemenangan.
  • Ini adalah putaran final Piala Eropa kesembilan Italia dan keenam mereka berturut-turut sejak edisi 1992 di Swedia. Hanya dua kali mereka gagal maju dari babak grup – pada tahun 1996 dan 2004.
  • Italia memenangkan Piala Eropa 1968 dan menjadi runner-up dua kali pada tahun 2000 dan 2012.
  • Italia (menang 7, imbang 3) merupakan satu dari empat tim tak terkalahkan di babak kualifikasi bersama Inggris, Austria, dan Rumania. Italia juga memiliki rekor tak terkalahkan terpanjang di kualifikasi Piala Eropa dari 30 pertandingan kualifikasi mereka.