Penampilan dan Kecurigaan

Don’t judge a book by it’s cover. Entah sudah berapa kali kita mendengarkan pepatah ini. Seolah tidak ada matinya pepatah populer ini terus saja mengingatkan kita untuk tidak serta merta menilai seseorang hanya dengan melihat penampilannya. Berbicara tentang penampilan saya punya sedikit cerita. Bisa dikatakan cerita ini kurang menyenangkan untuk saya pribadi.

Beberapa hari yang lalu, saya ditugaskan untuk mengundang semua tetangga karena kakak saya baru saja melahirkan anak keempatnya dan bermaksud menyelenggarakan aqiqah. Karena kakak dan suaminya baru saja pindah ke sana, jadilah mereka belum terlalu kenal dengan para tetangga, apalagi kakak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ibu dengan alasan kesepian.

Saya pun berangkat dengan senang hati untuk mengundang para tetangga. Satu per satu rumah tetangga saya datangi hingga akhirnya tibalah saya di sebuah rumah bercat kuning. Rumah tersebut terletak hanya beberapa meter dari rumah kakak. Hanya ada satu rumah yang memisahkan rumah kakak dengan rumah tersebut. ketika saya hendak memencet bel pagar, tiba-tiba seorang wanita berpakaian batik turun dari sepeda motornya.

Melihat dari gelagatnya, sepertinya wanita tersebut adalah si pemilik rumah. Lalu saya pun menghampirinya. Dan ternyata benar si wanita tersebut adalah pemilik rumah karena ia mengeluarkan kunci lalu membuka kunci pagar. Setelah pagar terbuka, saya pun menolehkan kepala sedikit ke dalam. Lalu si wanita tersebut keluar dan berkata, ”Mau apa? Cari siapa?” dengan nada judes dan wajah jutek. Begitu saya menjelaskan maksud kedatangan saya, maka berubahlah raut wajah si wanita tersebut. Wajah yang tadinya jutek berubah dengan drastic menjadi wajah yang ramah.

Segera ia mempersilakan saya masuk dan duduk. Saya bisa melihat dengan jelas ada rasa tidak enak dari caranya memperlakukan saya, apalagi setelah ia berkata, “Aduh, maaf ya, saya tidak ladeni ki’ dengan baik.” Artinya, maaf saya tidak menjamu Anda dengan baik. Begitu saya permisi untuk pulang, ia pun mengantarkan saya ke pagar sambil terus meminta maaf berkali-kali. Saya pun heran, mengapa si wanita itu terus-menerus minta maaf.

Ketika akhirnya saya sadar dengan apa yang terjadi, saya pun merasa malas. Saya jadi malas mendengar kata-kata minta maaf dari si wanita. Jangankan untuk menjawabnya, untuk menoleh padanya pun saya sudah enggan. Akhirnya saya pulang dengan perasaan dongkol setengah mati.

Berangkat dari cerita tersebut, saya kembali tersadar bahwa pepatah populer tersebut sama sekali tidak ada artinya. Jangan menilai seseorang dari penampilannya. Tapi tidak bisa dipungkiri penampilan menjadi hal pertama yang diperhatikan saat kita bertemu orang lain. Penampilan yang baik tentu akan menghasilkan kesan yang baik, sebaliknya penampilan yang buruk akan menghasilkan kesan buruk pada kita.

Dalam cerita saya tadi, si wanita tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Kesalahan (jika bisa disebut kesalahan) si wanita adalah karena ia langsung memberikan penilaian negatif pada orang yang bahkan belum ia kenal. Hal yang saya tangkap dari perlakuan si wanita pada saya adalah ia mungkin berpikir bahwa saya mendatangi rumahnya untuk meminta sumbangan, apalagi saat itu saya memang membawa dompet. Tapi jika memang saya benar ingin meminta sumbangan, maka ia juga tidak seharusnya bersikap begitu pada orang lain, apalagi saat itu ia tengah mengenakan seragam kerja yang menunjukkan kelasnya sebagai wanita karir.

Sementara kesalahan saya sendiri adalah karena kurang memperhatikan penampilan. Kala itu penampilan saya mungkin agar sedikit kusut atau memang kurang bling-bling. Tapi pakaian seperti apakah yang pantas dikenakan untuk mengantarkan undangan? Saya rasa pakaian sederhana yang rapi itu sudah cukup. Waktu itu saya memakai kemeja panjang yang dipadukan dengan jeans, persis seperti gaya mahasiswi. Mungkin memang ada yang salah dengan pakaian saya hingga si wanita tersebut salah menduga saya sebagai orang yang hendak meminta sumbangan.

Berkaca dari cerita di atas, penampilan memang sangat penting. Salah penampilan sedikit saja maka akan mengundang kecurigaan dari orang lain. Bukan salah mereka juga jika mereka menvonis kita hanya karena kita salah kostum. Kitalah yang harus membangun image untuk diri sendiri. Orang lain hanya perlu menilai. Apapun penilaian mereka, itu menjadi hak bagi mereka. Satu yang terpenting adalah bahwa kita adalah kita.

Tapi terlepas dari itu semua, pepatah populer di atas juga tidak semestinya kita lupakan. Karena penampilan terbaik bukanlah segalanya. Seseorang mungkin terlihat buruk namun siapa sangka ternyata ia memiliki hati yang bersih. Seseorang mungkin terlihat baik tapi siapa sangka ia memiliki hati yang kotor. Intinya, penampilan baik atau buruk semuanya adalah pilihan. Tinggal kitalah yang harus memilih bagaimana cara membagun citra diri sendiri.

Advertisements

Pengalaman Nonton Film G30S/ PKI

Sebenarnya saya mau menuliskan hal ini dari beberapa hari yang lalu, tapi karena padatnya kesibukan jadilah saya baru bisa menulis sekarang. Meskipun sekarang sudah tanggal 3 Oktober, tapi saya pikir tidak ada salahnya jika baru menuliskannya sekarang. Jadi, yang ingin saya ceritakan adalah tentang film Pengkhianatan G30s/PKI. Tapi bukan isi dari filmnya karena semua pasti sudah tahu apa yang diceritakan di dalam film ini. Bukan pula tentang ideologi yang dibahas dalam film ini. Saya hanya ingin bercerita sedikit tentang beberapa hal terkait film ini.

Sejak dulu, atau tepatnya sejak SMP, saya sangat ingin menonton film ini. Kenapa? Karena waktu itu saya baru saja belajar tentang G30S/PKI di dalam pelajaran sejarah. Kemudian saya tiba-tiba teringat kalau cerita ini ada filmnya. Saya ingat pernah menonton filmnya waktu masih jaman SD, kira-kira kelas 1 pada tahun 1998. Waktu itu saya ingat neneklah yang paling antusias menonton film ini.  Tapi karena itu sudah lama sekali, jadilah saya tidak ingat apa-apa kecuali adegan pembuka di mana foto para korban ditampilkan. Itulah sebabnya saya ingin sekali menonton film ini. Karena tak lengkap rasanya jika telah membaca sejarahnya namun belum menonton filmnya.

Kembali ke jaman SMP. Saya pun mencari tahu bagaimana caranya untuk bisa menonton film tersebut. Tapi kakak saya berkata bahwa film itu sudah tidak pernah diputar lagi sejak rezim orba tumbang alias sudah bukan tontonan wajib. Jadilah saya bingung sendiri karena saya juga tidak tahu harus menemukan kaset VCDnya di mana dan waktu itu saya belum mengenal download film. Akhirnya perlahan keinginan itu pun mulai memudar.

Nah, beberapa waktu belakangan ini entah kenapa media sering sekali memberitakan soal PKI. Katanya ada isu bahwa PKI bangkit kembali, makanya kita disarankan untuk menonton ulang film ini agar kita ingat sejarah. Iya betul juga sebenarnya. Saya pun juga perlahan sudah mulai lupa, mungkin saja karena waktu untuk membaca juga mulai minim. Tapi terlepas apakah isu itu benar atau hanya sekedar itu, menurut saya tidak ada salahnya kita menonton film ini. Anggap saja kita belajar sejarah lewat film.

Akhirnya salah satu stasiun TV swasta pun menayangkan film ini secara eksklusif. Awalnya saya pikir tidak akan ada jeda iklan mengingat film ini berdurasi hampir 4 jam. Tapi tetap saja ada jeda iklan walaupun cuma tiga dan yang paling menyebalkan adalah tetap kena disensor. Meskipun tidak berlebihan tapi tetap saja rasanya aneh dan kurang enak ditonton. Padahal film ini ditayangkan saat tengah malam di mana sangat kecil kemungkinan ada anak di bawah umur yang menyaksikannya. Ini juga sempat jadi dilema karena generasi mudalah yang paling harus menonton film ini tapi adanya adegan kekerasan menjadi kendala tersendiri.

Saya memang tidak tahan melihat adegan kekerasan dan sadis tapi lebih tidak tahan lagi melihat adegan yang disensor. Masih lebih baik jika saya harus menutup mata jika ada adegan sadis daripada harus melihat adegan diblur atau dicut. Kita jadi seperti penonton yang tidak tahu apa-apa. Di film ini, ada adegan di mana DN. Aidit sedang merokok. Terus rokoknya itu diblur bulat. Serius, saya hampir mengira kalau itu adalah permen karet, karena bulat seperti gelembung yang keluar dari mulut.

Ada juga adegan di mana para anggota PKI sedang rapat. Ada kain merah di belakang DN. Aidit. Saya kira itu bendera merah putih. Tapi setelah diperhatikan hanya ada warna merah, yang putih itu tembok. Setelah diperhatikan lebih lama, barulah jelas kalau di situ ada lambang PKI yang diblur. Di sinilah saya merasa bodoh. Saya benar-benar mengira bahwa yang dibelakang DN. Aidit itu hanyalah kain merah biasa. Tapi karena saking maunya nonton film ini, akhirnya bertahan juga.

Masalah adegan kekerasan dalam film ini, menurut saja masih wajar. Saya masih sanggup melihat kalau hanya sekedar adegan tembak-menembak. Satu-satunya adegan yang tidak sanggup saya lihat adalah ketika anggota cakrabirawa menyayat wajah para korban dengan menggunakan silet. Adegan ini tidak diblur atau dicut tapi disuramkan alias hitam putih. Selain itu, tidak ada yang terlalu sadis. Hanya di bagian akhir saat jenazah para jenderal diangkat dari sumur di Lubang Buaya. Semua jenazah diblur.

Meskipun begitu ada beberapa adegan yang membuat saya jadi mengharu biru, yaitu adegan saat Ade Irma tertembak, saat jenderal Ahmad Yani ditembak di depan putra kecilnya, saat jenderal DI. Panjaditan ditembak ketika sedang khusu berdoa, dan saat putri jenderal DI Panjaitan menyapukan darah ayahnya ke wajahnya. Inilah yang membuat saya bertahan menonton hingga empat setengah jam.

Menonton film ini cukup menguras emosi. Dibuka dengan lagu Gugur Bunga yang terdengar begitu menyayat hati, suara musik pendukung yang lumayan mencekam, dan sinematografi yang apa adanya ala tahun 1980an. Tapi justru itulah yang membuat sensasi menonton film ini seperti menonton film dokumenter. Karena para pemainnya benar-benar mirip dengan aslinya. Dan menurut saya yang paling mirip dengan aslinya adalah pemeran lejten Ahmad Yani.

Walaupun kisah dalam film sesuai dengan sejarah yang diajarkan di sekolah, tapi tetap saja ada nuansa orba sehingga terkesan sangat subjektif. Setelah menonton film ini, saya pun jadi mengerti kenapa film ini dulu menjadi tontonan wajib di era orba dan berhenti ditayangkan tiap tahun saat rezim orba tumbang. Tapi namanya juga film, di mana ada villain di situ ada hero. Terlepas dari siapa yang villain dan siapa yang hero, film ini tetap perlu ditonton agar kita tidak lupa akan sejarah. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

Keimanan Bukan Warisan

Setiap orang tua tentu mengharapkan anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Tapi apakah kemudian harapan itu mampu melahirkan sosok manusia yang memiliki iman dan akhlak yang baik? Tentu tidak. Terkadang kita bisa melihat orang-orang yang boleh dikatakan religius tapi memiliki anak yang sama sekali berbeda dengan kelakuan orang tuanya. Atau sebaliknya ada anak yang shaleh tapi orang tuanya justru biasa-biasa saja.

Di lingkungan tempat saya tinggal, ada seorang anak yang taat beragama dan sangat jago dalam berdakwah. Ia mendapatkan ilmunya itu karena mengenyam pendidikan di salah satu pesantren di Sulawesi Selatan. Tapi hal kontras justru terlihat pada orang tuanya yang lebih mementingkan uang dibandingkan beribadah. Sang ibu bahkan tidak mengenakan hijab dan bebas keluar rumah dengan pakaian ketat.  Nah, inilah bukti bahwa status keimanan seseorang bukanlah warisan dari orang tuanya.

Kita tentu tahu dengan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Raihan.

Iman tak dapat diwarisi,

Dari seorang ayah yang bertakwa,

Ia tak dapat dijual beli,

Ia tiada di tepian pantai.

Lantas, apa bukti bahwa keimanan seseorang tidak dapat diwariskan?

Lihatlah kisah Nabi Nuh as dengan anaknya yang bernama Kan’an. Keimanan yang dimiliki oleh Nabi Nuh sudah tidak diragukan lagi. Tapi setelah berdakwah selama 950 tahun lamanya, beliau justru tidak mampu mengajak putranya ke jalan Allah. Atau kisah Nabi Ibrahim as dengan ayahnya. Beliau merupakan putra dari seorang pembuat patung berhala bernama Aazar. Meskipun ayahnya penyembah berhala maka tak lantas membuat Nabi Ibrahim turut menyembah berhala.

Keimanan maupun ketidakimanan tidak serta merta diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Ketaatan orang tua pada agama belum tentu melahirkan anak-anak yang juga taat beragama. Artinya, keimanan dan ketakwaan seseorang tidak diturunkan oleh orang tuanya. Butuh usaha dan kerja keras untuk mendapatkan keimanan apalagi untuk tetap mempertahankannya.

Jadi kita tentu tidak memiliki hak untuk menilai kadar keimanan seseorang hanya dengan meilhat siapa orang tuanya. Kita bukanlah hakim yang bisa seenaknya menghakimi seseorang lantaran memiliki orang tua yang terlihat tidak beriman. Karena pada dasarnya kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan orang lain. Kita juga tidak bisa memaksakan keimanan pada seseorang karena kita bukanlah pemberi hidayah pada orang lain.

Tapi meskipun iman tidak dapat diwariskan, bukan berarti kita membiarkannya begitu saja. Kita tentu harus mengajarkan syariat dan nilai-nilai Islam pada keluarga kita. Setelah itu, serahkan semuanya pada Allah karena Dialah yang Maha Mengetahui kadar keimanan seseorang.

Akhirul qalam, semoga Allah senantiasa memberikan nikmat dan hidayahnya agar kita mampu menjaga keimanan dan tetap istiqomah di jalan-Nya.

Jangan Buang Uang Koinmu!

Uang merupakan alat pembayaran yang sah dalam transaksi perdagangan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Di Indonesia sendiri uang yang beredar berupa uang kartal yaitu uang kertas dan uang koin. Meski begitu, kebanyakan orang justru bertransaksi dengan menggunakan uang kertas dibandingkan dengan uang koin. Nominalnya yang terbilang kecil membuat uang koin kerap dilupakan bahkan terkadang hanya ditelantarkan oleh si empunya.

Alasan berat dan rempong dibawa ke mana-mana juga menjadi faktor mengapa orang malas menggunakan uang yang terbuat dari logam ini. bukan Cuma pembeli saja yang malas membawanya, si penjual pun juga kadang enggan menerima uang koin. Tidak semua begitu hanya saja ada beberapa toko yang terang-terangan menolak penggunaan uang koin alias uang receh.

Suatu ketika saya pergi ke sebuah counter pulsa karena hendak membeli pulsa. Di atas meja terpampang tulisan yang berbunyi “Tidak Terima Uang Receh/ Koin dan uang Kusut”. Toko pulsa ini adalah satu dari sekian toko yang menolak pembeli yang berbelanja dengan uang receh. Padahal uang koin adalah uang juga dan masih menjadi alat pembayaran yang sah. Mungkin si penjual malas menghitung uang recehan yang bisa menghabiskan  waktu berjam-jam.

Memang terkadang kita pun juga bingung saat memiliki banyak uang receh. Karena kita tidak mungkin memasukkan semuanya ke dalam dompet karena pasti akan berat. Karena hal ini akhirnya kita jadi malas memiliki uang receh. Alhasil uang koin hasil kembalian saat belanja malah tidak kita ambil dan dibiarkan begitu saja dengan alasan ‘diikhlaskan’. Bahkan kita juga tidak merasa kehilangan saat uang pecahan 100, 200, atau 500 Rupiah kita tercecer. Tapi pernahkah kita berpikir sudah berapa banyak uang yang kita buang hanya karena malas membawanya?

Meski nominal dan ukurannya kecil, bukan berarti uang koin tidak ada gunanya. Uang koin memiliki segudang manfaat yang bahkan melebihi manfaat uang kertas. Jika uang kertas hanya digunakan sebagai alat pembayaran, maka lain halnya dengan uang koin. Tidak hanya sebatas alat pembayaran, uang koin bisa mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah menabung.

Saat kecil orang tua kita tentu pernah mengajarkan untuk menabung. Tabungan yang dimaksud adalah sebuah celengan yang berbentuk lucu. Di celengan itulah kita memasukkan uang koin yang diberikan orang tua. Saat celengan tersebut menjadi berat, maka perasaan bangga pun akan muncul dan betapa senangnya kita saat celengan tersebut dibuka. Betapa bahagianya kita saat melihat ada banyak sekali uang yang keluar dari celengan tersebut.

Meski kita pernah melakukannya saat kecil, tapi tidak ada salahnya juga jika kita masih menerapkannya saat ini. Saya pun termasuk salah satu orang yang hingga kini masih setia menabung uang koin. Bukan apa-apa, saya hanya merasa tertarik saja untuk melakukannya dan ada rasa senang tersendiri kala uang tersebut berhasil terkumpul dan menjadi uang kertas dengan nominal yang besar.

Caranya mudah saja, kita bisa menukarkannya di minimarket atau warung terdekat. Mereka tentu membutuhkan uang receh untuk kembalian. Kita semua pasti pernah merasakan saat uang kembalian kita ditukar dengan permen lantaran si penjual tidak punya uang kecil. Padahal hal itu sebenarnya tidak adil. Kita sebagai konsumen tetap berhak atas uang kembalian meskipun hanya sebesar 100 Rupiah. Maka dari itu, jika uang receh yang kita kumpulkan telah banyak maka segera tukarkan. Tentunya kedua pihak akan sama-sama untung.

Masih ada banyak sekali manfaat uang koin yang bisa kita rasakan. Mulai dari sebagai alat kerokan, alat pembayaran yang pas, hingga sebagai alat untuk beramal karena kita bisa memberikan uang koin yang kita miliki pada orang yang lebih membutuhkan. Sekecil apapun akan sangat bermanfaat. Maka dari itu, jangan buang uang receh jika tidak ingin kehilangan manfaat.